Kelalaian Waktu dan Kecendrungan Dalam Berpikir pada masa Study Kuliahan

Written By Unknown on Senin, 10 Januari 2011 | 01.07

Penulis : Riezal Fachrozie
Deskripsi : Tulisan ini direferensikan buat sahabat Hipmawan agar lebih menghargai waktu pada saat duduk dibangku kuliahan
Sumber : Pengalaman Pribadi

Waktu adalah uang didefinisikan oleh para kalangan bisnis dan waktu adalah kesempatan buat kita sebagai pelajar yang bijak dalam menghargai waktu. Ada kalanya peribahasa kata yang tepat digunakan dalam hal ini tentunya Lebih cepat lebih baik namun dalam realitanya banyak kalangan pelajar yang menerapkan sistem yang sangat bertentangan dengan mengabaikan waktu yang terbuang percuma. Misalnya menerapkan system kuliah santai termasuk penulis sendiri dan inilah sebuah kesalahan yang fatal yang berujung penyesalan nantinya. Dan ini pulalah yang menjadi dorongan dalam diri bagi penulis untuk bisa dijadikan pembelajaran untuk kedepan yang lebih baik.

Kuliah tidak hanya berperang menaklukkan ratusan SKS dan melewati semester demi semester untuk mendapatkan gelar tertentu namun kuliah juga menuntut kita berperang menaklukan waktu. Mengatur waktu dalam meraih target jangka pendek yang tepat sasaran untuk jangka panjang yang efesien. Dan biasanya setiap fakultas telah mentarget masa waktu program S1 jangka panjang selama 4 Tahun (3.5 tahun penyelesaian teori dan 6 bulan lagi skripsi). Waktu ini bisa saja lebih cepat dan lebih lama tergantung individu memenej waktu dengan bijak dan biasanya setiap fakultas telah mentargetkan waktu jangka pendek dengan menerapkan kapasitas SKS/semester dengan masa study jangka panjang selama 4 Tahun.

Pada realitanya ada individu yang menyelesaikan masa study slama 3.5 tahun (lebih cepat) dan ada pula yang menyelesaikan masa studinya slama 4 (sesuai target), 5, 6, dan bahkan 7 tahun (jauh dari target). Dan penulis yakin bahwa ini bukan disebabkan oleh kebodohan individu melainkan secara mayoritas adalah kelalaian memenej waktu termasuk disini penulis sendiri. Kelalaian ini tentunya disebabkan oleh banyak hal... Bukan hanya karena menurunnya tingkat antusias pada kampus yang digeluti melainkan juga disebabkan kan oleh kecendrungan pola pikir.

Bicara mengenai antusias terhadap kampus penulis dan beberapa sumber lain menyimpulkan masa kuliah menyenangkan pada saat semester awal hingga semester lima dan untuk semester berikutnya rasa bosan terhadap kampus mulai menerpa dan akan perasaan ini akan membawa individu itu sendiri untuk bermalas-malasan dan berdampak pada kelalaian terhadap waktu sehingga kuliah dinomor duakan dari pola pikir tertentu.

Pola pikir yang memiliki persentase besar adalah kecendrungan seseorang dalam berpikir dan ini slalu berubah-ubah seiring waktu yang berjalan. Tentunya kuliah sangat memakan waktu yang tidak singkat dan pada masa inilah masa2 seseorang dalam mencari jati diri dalam pengembangan individualismenya. Dan pada masa inilah kecendrungan pola pikir slalu berubah-ubah dan sulit untuk sesuaikan. Pola pikir kita dikotak2an dalam persentase besar dan kecil terhadap realita kehidupan yang kita hadapi secara bersamaan dan seiring sejalan dengan waktu pada saat masa study kuliahan. Persentase yang besar dalam pola pikir kita adalah kecendrungan pola pikir individu terhadap sesuatu. Sedangkan persentase kecil dalam pikiran kita sering didefinisikan hal yang tidak begitu penting dan sering terabaikan, dilalaikan, dan mungkin terlupakan. Bahayanya jika kuliah berada pada dasar pemikiran dalam persentase yang kecil dari pola pikir yang lain sehingga kuliah menjadi sosok pemikiran yang terabaikan dan kita lalai dalam hal itu dan kita juga lalai dlam memenej waktu.

Kecendrungan pola pikir ini tentunya berdampak pada waktu yang akan dan sedang kita jalani. Kecendrungan dalam berpikir tentunya banyaknya pemikiran dalm otak kita namun terbagi dalam persentase tertentu. Kecendrungan berpikir akan berorientasi pada diri dan akan berdampak pada pemikiran lain. Dan realitanya manusia hanya mampu cendrung pada satu hal pemikiran seperti kita contohkan disini sebagai variabel pemikiran tentang kaliah , wanita, uang dan lain2. Dan kecendrungan orang berpikir tentunya berada pada persentase besar dalam pemikirannya. Misal realita saat ini secara mayoritas wanita (50%), kuliah (20%), uang (20%), dan lain2 (5%). Tentunya individu cendrung berpikir pada wanita. Baiknya kuliah berada pada tingkat 50% tersebut. Kenapa ? Karena kecendrungan orang berpikir akan berdampak pada tingkah laku dan hasil yang akan dia capai nantinya. Adapula para pakar menyatakan bahwa "kamu akan seperti apa yang kamu pikirkan".

Kelalaian dalam menyelesaikan masa study kuliah bukan hanya disebabkan oleh kebodohan permanen namun kelalaian dalam memenej waktu dan ketidak berdayakan kita dalam memenej pemikiran. Berpikir secara berlebihan juga akan berdampak kerdil terhadap pemikiran yang lain. tidak heran jika ada orang yang pintar yang menyelesaikan masa study kuliah yang lama namun itu bukanlah disebabkan oleh kebodohan melainkan secara garis besar adalah kelalaian dalam memenej waktu dan kecendrungan dalam berpikir terhadap sesuatu.

Penulis hanya berpesan menejlah waktumu sejak dini untuk target jangka tertentu dan untuk jangka yang panjang. Dan kecendrungan dalam berpikir sangat sulit diprediksi dan akan slalu berubah-ubah. Anggaplah ini sebagai pengembangan diri dan tetaplah berpikir positif. Maju terus generasi penerus Pelalawan. Nasib pelalawan ada ditangan kita dengan tuah (ilmu) negeri (Pelalawan) pada generasi (Hipmawan). Dan ingat kemajuan pembangun sebuah negara atau daerah sangat bergantung pada Sumber daya manusia yang dia miliki. Bersama Hipmawan mari kita tingkatkan generasi muda penerus generasi tua disana untuk lebih baik, berilmu, beriman dan bertaqwa paDa Allah SWT. Demi terciptanya pembangunan dengan tuah (ilmu pengetahuan dan wawasan) dan Iman (sebagai penerang ilmu agar ilmu yang kita memiliki tidak membutakan kita yg bisa merugikan orang lain) demi mengharapkan Ridho Allah SWT.

Insiden Penyerangan Mahasiswa Pelalawan dirumah sendiri

Written By Unknown on Jumat, 07 Januari 2011 | 21.54

Pekanbaru (7/01/11) sekelompok pemuda lebih kurang 80 orang melakukan penyerangan membabi buta disebuah kos-kosan Jl. Amalia III marpoyan yang dihuni mahasiswa pelalawan dan terdapat beberapa orang korban pemukulan yang dengan sengaja direncanakan sekelompok orang tersebut.

Dilihat dari kronologis kejadian berawal dari minggu-minggu akhir sebelum kejadian beberapa anak sering melakukan track dengan knalpot kencang persis didepan kos yang dihuni mahasiswa pelalawan tersebut sehingga suaranya sangat mengganggu hal ini diperparah sekelompok orang yang menggunakan knalpot cempreng dengan suara keras sering melakukan track didepan kosan pukul 00:00 malam. Sehingga menyulut emosi beberapa rekan mahasiswa yang merasa terganggu.

Hari berikutnya peristiwa itu terulang dan beberapa rekan mahasiswa turun dan pelaku tracking distop dan diperingati untuk tidak melakukan hal yang mengganggu ketentraman masayarakat mengingat berada dikawasan pemukiman masyarakat apa lagi pada saat jam malam. Namun hal itu justru sekelompok orang yang melakukan track dengan knalpot yang kencang justru berbuat ulah semakain menjadi-jadi dengan sengaja meng-gas-gas knalpot cempreng tersebut dengan sengaja hingga terjadi insiden pelemparan sepatu oleh salah seseorang mahasiswa pelalawan pada pelaku kereta yang memiliki knalpot kencang tersebut.

Sekelompok orang merasa tidak terima atas pelemparan sepatu tersebut sehingga mendatangi kos-kosan yang dihuni mahasiswa pelalawan. Sehingga terjadilah adu mulut sehingga setelah mendapatkan penjelasan dari kedua belah pihak pihak pemuda setempat melakukan perdamaian dengan catatan kedua belah pihak tidak mengulangi kesalahan yang sama. Baik melakukan gas kencang dengan knalpot cempreng didepan kosan baik disengaja ataupun tidak dan melakukan tindakan pelamparan pada pelaku dan juga kedua belah pihak mendapatkan kecaman keras dari pemuda setempat dan akhirnya kedua belah pihak bersepakat dengan damai dan membubarkan diri.

Dan selang beberapa menit, beberapa mahasiswa mulai beraktivitas seperti biasa, nonton dan belajar bagi yang melakukan ujian esok harinya... Tanpa diduga sama sekali sekelompok orang sekitar 8O orang melakukan penyerangan secara membabi buta. Dan memukul beberapa mahasiswa yang kebetulan berada dalam rumah. Mengingat jumlah penyerangan tersebut sangat banyak beberapa mahasiswa hanya bisa pasrah. "kami nggak bisa melakukan perlawanan mengingat jumlah mereka yang melakukan penyerangan cukup banyak, jika kami melawan mungkin kami lebih parah dari sekarang" tutur seorang mahasiswa yang menjadi korban terhadap insiden tersebut.

Beberapa yang menjadi korban pemukulan Syafrie (sekretaris infokom hipmawan), Samsur, Edi B dan Saliman. Mengaku pasrah terhadap insiden yang berlangsung secara tiba-tiba tersebut. Syafri salah satu menjadi korban insiden tersebut mengaku bahwa serangan itu tidak disangka-sangka dan menurut kami ini penyerangan yang direncanakan. Dan kami pikir masalah sepeleh itu udah kelar dengan damai dan tak diperpanjang. sehingga kamipun dari mahasiswa yang merasa semua baik-baik aja tidak menyangka adanya penyerangan balik membabi buta pada kosan kami dan kami yang merasa kaget cuma bisa pasrah hingga datang beberapa orang dari pemuda lain dan RT setempat melerai.

Dan kami sedikit tenang ketika selang waktu yang tidak lama temen mahasiswa Pelalawan lain berdatangan kelokasi kejadian. Sebagai penengah dari insiden tersebut.

keputusan akhir kedua belah pihak melakukan perdamain tertulis antara samsur dan hadi sebagai penyebab insiden itu terjadi. Namun beberapa mahasiswa yang menjadi korban tidak bisa berbuat apa-apa karena pihak yang bersangkutan tlah menyepakati dengan damai dan syafri menuturkan meskipun adanya perjanjian tertulis namun itu hanya antara samsur dan hadi bukan kita yang menjadi korban penyerangan yang direncanakan tersebuat padahal sebelumnya telah disepakati damai secara lisan meskipun belum tertulis. Dan kami bisa saja melaporkan ini secra resmi pada kepolisian dan menutut mereka yang melakukan pemukulan kepada kami yang hanya korban melerai baku hantam tersebut. Kami juga sudah membaca surat perjanian tersebut korban pemukulan tidak dicantumkan. Namun kami sebgai korban dari insiden tersebut masih mempertimbangkan waktu dan dampak baru akibat masalah ini hingga kepolisian mengingat kami juga dalam masa ujian semester.

adapun kerugian yang kami derita atas insiden penyerangan tersebut selain korban pemukulan beberapa mahasiwa yang mencoba melerai juga terdapat satu motor yang rusak diakibatkan insiden tersebut...

Awal Pembentukan Kabupaten Pelalawan

Nama Kabupaten Pelalawan berawal dari nama
sebuah kerajaan Pelalawan yang pusat kerajaannya
berada di pinggir sungai Kampar. Kerajaan ini berdiri
tahun 1726, dan mulai terkenal pada masa
pemerintahan Sultan Syed Abdurrahman Fachrudin
(1811-1822). Raja terakhir kerajaan Pelalawan adalah Tengku Besar Kerajaan Pelalawan yang memerintah
pada tahun 1940 -1945. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 53 Tahun 1999
tentang pembentukan 8 (delapan) Kabupaten/Kota di
Propinsi Riau yang diresmikan oleh Menteri Dalam
Negeri tanggal 12 Oktober 1999 di Jakarta dan
Operasional Pemerintah Daerah tanggal 5 Desember
1999, salah satu di antaranya adalah Kabupaten Pelalawan. Kabupaten ini memiliki luas 13.256,70 Km²
dan pada awal terbentuknya terdiri atas 4
kecamatan, yaitu kecamatan : Langgam, Pangkalan
Kuras, Bunut, dan Kuala Kampar. Dalam perkembangannya, Kabupaten Pelalawan
secara administratif terdiri atas 12 wilayah
kecamatan, yang meliputi 93 pemerintahan Desa dan
12 pemerintahan Kelurahan. 35 desa berada di
pinggiran sungai, 8 desa berbatasan dengan laut, 50
desa berada di kawasan perkebunan, PIR Trans dan pedalaman, 12 desa terdapat di kawasan kota sedang
dan kecil. Hasil Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA)
yang pertama di Kabupaten Pelalawan pada bulan
Februari 2008 menetapkan pasangan H.T Azmun
Jaafar dan Drs H Rustam Efendi sebagai Bupati dan
Wakil Bupati Kabupaten Pelalawan periode tahun 2008-2011.

Pentingnya Ilmu Pengetahuan

Pada suatu hari saya menyaksikan pak habibi dalam satu topik yang membahas perbedaan ilmu dan harta dan pentingnya pendidikan untuk masa depan yang gemilang minimal untuk diri sendiri.

Beliau menerangkan betapa pentingnya ilmu untuk masa depan yang lebih baik dan beliau membandingkannya dengan harta sebagai perumpamaan bagaimana jepang membangun jepang dari ilmu pengetahuan dan mengantarkan negara tersebut sebagai negara yang maju..

Dan beliau juga menyampaikan keutamaan kita memiliki ilmu pengetahuan bahwa ilmu yang membedakan kita antar manusia lain didunia seperti Allah membedakan manusia dari manusia lainnya. Dan beliau sampaikan dari pandangan manusia yang membedakan kita itu adalah ilmu pengetahuan dan beliau menegaskan pentingnya pendidikan.

Dan beliau menerangkan ilmu tak pernah susut jika kita bagikan dengan orang lain. Lain halnya dengan harta, ilmu juga akan meningkatkan tingkat sosial dan tolak ukur buat pengembangan diri dan wawasan untuk membangun diri yang lebih baik juga ilmu kunci utama kita dalam meraih mimpi dan harapan yang kita inginkan. Dan orang pintar orang yang berilmu pengetahuan dan berwawasan luas.

Dan beliau juga menggambarkan malaysia maju dengan kebijakan dalam negerinya membangun ilmu pengetahuan dengan mengirim anak bangsanya untuk serap ilmu diluar negeri dan memetik hasilnya kembali untuk bangsanya yang lebih maju.

Beliau juga menyampaikan ilmu juga harus didasari iman karena ilmu pengetahuan tanpa iman akan pincang dan sebaliknya akan lumpuh jadi keduanya harus sejalan sebagai kekuatan dalam diri untuk melihat lebih luas potensi dalam diri kita... Dan iman sebagai sosial control atas penempatan ilmu yang kita miliki agar tidak disalah gunakan dan pastinya ilmu yang bermanfaat buat dirinya dan orang lain.

Dalam hal ini beliau memandang lebih luas dengan menitikkan beratkan pada pentingnya ilmu pengetahuan berbangsa sedangkan penulis menitikkan beratkan pada diri sendiri dan orang lain betapa pentingnya ilmu pengetahuan sebagai tolak ukur dalam meraih kesempatan masa depan yang lebih baik...

Disini juga bisa kita petik sebagai generasi penerus Pelalawan khususnya Hipmawan. Bergegaslah cari ilmu yang nantinya bermanfaat buat diri sendri juga orang lain. Dengan ilmu pengetahuan wawasan kita menjadi luas dan dengan pengetahuan itu pula kita bisa melihat kesempatan lebih luas untuk masa depan yang lebih baik.

Penulis menekankan pendidikan menjadi kunci utama dalam meraih mimpi kita dan akan mengantarkan kita pada kesuksesan yang tentunya juga didasari iman hingga nantinya ilmu yang kita peroleh akan bermanfaat dan ilmu yang kita miliki bukan untuk membodoh2i, korupsi, atau hal yang bisa merugikan banyak pihak...

Penulis juga menyampaikan. Tataplah masa depanmu dengan tersenyum dengan ilmu pengetahuan luas dan seolah-olah sudah bisa melihat masa depannya yang lebih baik dengan ilmu pengetahuan yang dimiliki tentunya.

tidak ada yang miskin jika Smua orang pintar kenapa ? Karena dengan wawasan yang kita miliki tentunya akan melihat begitu banyak peluang, begitu banyak kesempatan dan seolah-olah kesempatan itu tak pernah habis.

Penulis berpesan pada kaum intelektual muda generasi penerus Pelalawan agar mengutamakan pentingnya pendidikan minimal buat dirimu sendiri untuk wujudkan masa depan yang lebih baik... Jadi belajarlah dan terus belajar carilah wawasan seluas mungkin karena itulah sebagai dasar kunci utama dalam meraih kesuksesan dalam hidup yang lebih baik. Tentunya diusia pembelajaran bisa disiapkan untuk menjadi sosok manusia yang berilmu pengetahuan dlam bidangnya tentunya dan siap hadapi arus zaman dan siap pula menjadi generasi penerus yang handal untuk diri dan Pelalawan yang lebih maju dan berilmu pengetahuan...

Pelalawan Sedari Dulu

Written By Unknown on Kamis, 06 Januari 2011 | 12.00

Wilayah kerajaan Pelalawan yang sekarang menjadi
Kabupaten Pelalawan, berawal dari Kerajaan
Pekantua yang didirikan oleh Maharaja Indera (sekitar
tahun 1380 M). Beliau adalah bekas Orang Besar
Kerajaan Temasik (Singapura) yang mendirikan
kerajaan ini setelah Temasik dikalahkan oleh Majapahit dipenghujung abad XIV. Sedangkan Raja
Temasik terakhir yang bernama Permaisura
(Prameswara) mengundurkan dirinya ke Tanah
Semenanjung, dan mendirikan kerajaan Melaka. Maharaja Indera (1380-1420 M) membangun kerajaan
Pekantua di Sungai Pekantua (anak sungai Kampar,
sekarang termasuk Desa Tolam, Kecamatan
Pelalawan, Kabupaten Pelalawan) pada tempat
bernama “Pematang Tuo” dan kerajaannya dinamakan “Pekantua ”. Selain itu Maharaja Indera membangun candi yang bernama “Candi Hyang ” di Bukit Tuo (lazim juga disebut Bukit Hyang), namun
sekarang lebih dikenal dengan sebutan “Pematang Buluh” atau Pematang Lubuk Emas, sebagai tanda syukurnya dapat mendirikan kerajaan Pekantua.
Raja-raja Pekantua yang pernah memerintah setelah
Maharaja Indera adalah Maharaja Pura (1420-1445 M),
Maharaja Laka (1445-1460 M), Maharaja Sysya
(1460-1460 M). Maharaja Jaya (1480-1505 M).
Pekantua semakin berkembang, dan mulai dikenal sebagai bandar yang banyak menghasilkan barang-
barang perdagangan masa lalu, terutama hasil
hutannya. Berita ini sampai pula ke Melaka yang
sudah berkembang menjadi bandar penting di
perairan Selat Melaka serta menguasai wilayah yang
cukup luas, oleh karena itu Melaka bermaksud menguasai Pekantua, sekaligus mengokohkan
kekuasaannya di Pesisir Timur Sumatera. Maka pada
masa pemerintahan Sultan Mansyur Syah (1459-1477
M), dipimpin oleh Sri Nara Diraja, Melaka menyerang
Pekantua, dan Pekantua dapat dikalahkan.
Selanjutnya Sultan Masyur Syah mengangkat Munawar Syah (1505-1511 M) sebagai Raja Pekantua.
Pada upacara penabalan Munawar Syah menjadi raja
Pekantua, diumumkan bahwa Kerajaan Pekantua
berubah nama menjadi “Kerajaan Pekantua Kampar ” dan sejak itu kerajaan Pekantua Kampar sepenuhnya berada dalam naungan Melaka. Pada
masa inilah Islam mulai berkembang di Kerajaan
Pekantua Kampar. Setelah Munawar Syah mangkat, diangkatlah
puteranya Raja Abdullah, menjadi Raja Pekantua
Kampar (1511-1515 M). Di Melaka, Sultan Mansyur
Syah mangkat, digantikan oleh Sultan Alauddin Riayat
Syah I, kemudian mangkat dan digantikan oleh Sultan
Mahmud Syah I. Pada masalah inilah kerajaan Melaka diserang dan dikalahkan oleh Portugis (1511 M).
Sultan Mahmud Syah I mengundurkan dirinya ke Muar,
kemudian ke Bintan dan sekitar tahun 1526 M sampai
ke Pekantua Kampar. Raja Abdullah (1511-1515 M), raja Pekantua Kampar
yang masih keluarga dekat Sultan Mahmud Syah I,
yang turut membantu melawan Portugis akhirnya
tertangkap dan dibuang ke Gowa. Oleh karena itulah
ketika Sultan Mahmud Syah I sampai di Pekantua
(1526 M) langsung dinobatkan menjadi Raja Pekantua Kampar (1526-1528 M) dan ketika beliau mangkat
diberi gelar “Marhum Kampar ”. Makamnya terletak di Pekantua Kampar dan sudah berkali-kali dipugar
oleh raja-raja Pelalawan. Pemugaran terakhir
dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Pelalawan,
Propinsi Riau dan pemerintah Negeri Melaka,
Malasysia). Sultan Mahmud Syah I setelah mangkat digantikan
oleh puteranya dari isterinya Tun Fatimah, yang
bernama Raja Ali, bergelar “Sultan Alauddin Riayat Syah II ”. Tak lama kemudian, beliau meninggalkan Pekantua ke Tanah Semananjung, mendirikan negeri
Kuala Johor, beliau dianggap pendiri Kerajaan Johor.
Sebelum meninggalkan Pekanbatu, beliau menunjuk
dan mengangkat Mangkubumi Pekantua (1530-1551
M)), yang bernama Tun Perkasa dengan gelar “Raja Muda Tun Perkasa ”. Tun Hitam (1551-1575 M), Tun Megat (1575-1590 M). Ketika dipimpim oleh Sultan Abdul Jalil Syah (cucu
Sultan Alauddin Riayat Syah II, Raja Pekantua Kampar,
kerajaan Johor telah berkembang pesat. Oleh karena
itu Tun Megat, merasa sudah sepantasnya untuk
mengirim utusan ke Johor untuk meminta salah
seorang keturunan Sultan Alauddin Riayat Syah II kembali ke Pekantua Kampar untuk menjadi rajanya.
Setelah mufakat dengan Orang-orang Besar Pekantua,
maka dikirim utusan ke Johor, terdiri dari: Batin
Muncak Rantau (Orang Besar Nilo dan Napuh), Datuk
patih Jambuano (Orang Besar Delik dan Dayun), dan
Raja Bilang Bungsu (Orang Besar Pesisir Kampar). Sultan Abdul Jalil Syah mengabulkan permintaan Tun
Megat, lalu mengirimkan salah seorang keluarga
dekatnya yang bernama Raja Abdurrahman untuk
menjadi Raja Pekantua. Sekitar tahun 1590 M, Raja
Abdurrahman dinobatkan menjadi raja Pekantua
Kampar dengan gelar “Maharaja Dinda” (1950-1630 M). Terhadap Johor, kedudukannya tetaplah sebagai Raja Muda Johor.
Sebab itu disebut juga “Raja Muda Johor di Pekantua Kampar ”. Tun Megat yang sebelumnya berkedudukan sebagai Raja Muda, oleh Raja
Abdurrahman dikukuhkan menjadi Mangkubumi,
mewarisi jabatan kakeknya Tun Perkasa. Raja Abdurrahman yang bergelar Maharaja Dinda itu
amatlah mencintai laut. Beliau mendirikan tempat
pembuatan kapal layar di Petatal dan Limbungan
(sekarang berada dalam wilayah Sungai Ara,
Kecamatan Bunut. Bandar dagang yang sebelumnya
berpusat di Bandar Nasi, dipindahkan ke Telawa Kandis. Selanjutnya beliau memindahkan pula pusat
kerajaan Pekantua Kampar dari Pekantua (Pematang
Tuo) ke Bandar Tolam (sekarang menjadi Desa Tolam,
Kecamatan Pelalawan). Setelah mangkat, Maharaja Dinda digantikan oleh
Puteranya Maharaja Lela I, yang bergelar Maharaja
Lela Utama (1630-1650 M), Tak lama kemudian beliau
mangkat, dan digantikan oleh puteranya Maharaja
Lela Bangsawan (1650-1675 M), yang selanjutnya
digantikan pula oleh puteranya Maharaja Lela Utama (1675-1686 M). Raja ini selanjutnya digantikan pula
oleh puteranya Maharaja Wangsa Jaya (1686-1691 M).
Pada masa pemerintahannya, Tanjung Negeri banyak
diganggu oleh wabah penyakit yang banyak
membawa korban jia rakyatnya, namun para
pembesar belum mau memindahkan pusat kerajaan karena masih sangat baru. Akhirnya beliau mangkat
dan digantikan oleh puteranya Maharaja Muda Lela
(1691-1720 M), beliau segera memindahkan pusat
kerajaan dari Tanjung Negeri karena dianggap sial
akibat wabah penyakit menular yang menyebabkan
banyaknya rakyat menjadi korban, termasuk ayahandanya sendiri. Namun upaya itu belum
berhasil, karena masing-masing Orang Besar
Kerajaan memberikan pendapat yang berbeda. Pada
masa pemerintahannya juga, perdagangan dengan
Kuantan ditingkatkan melalui Sungai Nilo, setelah
mangkat, beliau digantikan oleh puteranya Maharaja Dinda II (1720-1750 M). pada masa pemerintahannya
diperoleh kesepakatan untuk memindahkan pusat
kerajaan Pekantua Kampar ketempat yang oleh
nenek moyangnya sendiri, yakni “Maharaja Lela Utama” pernah dilalaukan (ditandai, dicadangkan) untuk menjadi pusat kerajaan, yaitu di Sungai Rasau,
salah satu anak Sungai Kampar jauh di hilir Sungai
Nilo. Sekitar tahun 1725 M, dilakukan upacara pemindahan
pusat kerajaan dari Tanjung Negeri ke Sungai Rasau.
Dalam upacara adat kerajaan itulah Maharaja Dinda II
mengumumkan bahwa dengan kepindahan itu, maka
nama kerajaan “PEKANTUA KAMPAR ”, diganti menjadi kerajaan ‘PELALAWAN ”, yang artinya tempat lalau-an atau tempat yang sudah
dicadangkan. Sejak itu, maka nama kerajaan
Pekantua tidak dipakai orang, digantikan dengan
nama Pelalawan saja sampai kerajaan itu berakhir
tahun 1946. Didalam upacara itu pula gelar beliau
yang semua Maharaja Dinda II disempurnakan menjadi Maharaja Dinda Perkasa atau disebut
Maharaja lela Dipati. Setelah beliau mangkat,
digantikan oleh puteranya Maharaja Lela Bungsu
(1750-1775 M), yang membuat kerajaan Pelalawan
semakin berkembang pesar, karena beliau membuka
hubungan perdagangan dengan Indragiri, Jambi melalui sungai Kerumutan, Nilo dan Panduk.
Perdagangan dengan Petapahan (melalui hulu sungai
Rasau, Mempura, Kerinci). Perdangan dengan Kampar
Kanan dan Kampar Kiri (melalui sungai Kampar) dan
beberapa daerah lainnya di pesisir timur Sumatera.
Untuk memudahkan tukar menukar barang dagangan, penduduk membuat gudang yang dibuat
diatas air disebut bangsal rakit (bangsal rakit inilah
yang kemudian berkembang menjadi rumah-rumah
rakit, bahkan raja Pelalawan pun pernah membuat
istana rakit, disamping istana darat). Ramainya perdagangan di kawasan ini antara lain
disebabkan oleh terjadinya kemelut di Johor. Setelah
Sultan Mahmud Syah II (Marhum Mangkat Dijulang)
mangkat akibat dibunuh oleh Megat Sri Rama,
sehingga arus perdagangan beralih ke kawasan
pesisir Sumatera bagian timur dan tengah, terutama di sungai-sungai besar seperti Kampar, Siak, Indragiri,
dan Rokan. Dalam waktu itulah Pelalawan
memanfaatkan bandar-bandar niaga untuk menjadi
pusat perdagangan antar wilayah di pesisir timur dan
tengah Sumatera. Sultan Mahmud Syah II yang mangkat dibunuh oleh
Laksemana Megat Sri Rama tidak berputera, maka
penggantinya diangkat Bendahara Tun Habib menjadi
Raja Johor yang bergelar Sultan Abdul Jalil Riayat
Syah. Tak lama datang Raja Kecil Siak menuntut Tahta
Johor, karena beliau mengaku sebagai putera Sultan Mahmud Syah II dengan istrinya yang bernama Encik
Pong. (Catatan silsilah raja-raja Siak menyebutkan
bahwa ketika Sultan Mahmud Syah II mangkat, Raja
Kecil masih dalam kandungan bundanya, yang
sengaja diungsikan keluar dari Johor. Dalam pelarian
itulah beliau lahir, kemudian dibawa ke Jambi dan dibawa ke Pagarruyung. Disanalah beliau dididik dan
dibesarkan, sampai beliau turun kembali ke Johor
melalui Sungai Siak untuk mengambil tahta Johor yang
sudah diduduki oleh Sultan Abdul Jalil Riayat Syah itu.
Mengenai Raja Kecil ini terdapat berbagai versi, ada
yang mengakuinya sebagai putera Sultan Mahmud dan ada yang menolaknya. Tetapi para pencatat
sejarah dan silsilah dikerajaan Siak dan Pelalawan
tetap mengakui bahwa beliau adalah putera Sultan
Mahmud Syah II. Raja kecil menduduki tahta Johor bergelar Sultan
Abdul Jalil Rahmad Syah. Tetapi kemudian terjadi pula
pertikaian dengan iparnya, Raja Sulaiman, putera
Sultan Abdul Jalil Riayat Syah. Pertikaian itu terus
berlanjut dengan peperangan berkepanjangan. Raja
Sulaiman akhirnya berhasil menduduki tahta Johor, dan bergelar Sultan Sulaiman Badrul Alam Syah
dengan bantuan lima orang putera bangsawan Bugis
(1722-1760). Sedangkan Raja Kecil yang menduduki
tahta Johor sebelumnya (1717-1722 M)
mengundurkan dirinya ke Siak, kemudian membuat
negeri di Buatan. Inilah awal berdirinya kerajaan Siak Sri Indrapura. Raja Kecil memerintah Siak 1722-1746
M). Berlangsungnya kerusukan di Johor itu menyebabkan
Pelalawan melepaskan dirinya dari ikatan Johor,
apalagi berita yang sampai ke Pelalawan
mengatakan, yang memerintah di Kerajaan Johor
sekarang bukan lagi keturunan Sultan Alaudin Riayat
Syah, yang dulunya menjadi raja Pekantua Kampar. Pada masa Sultan Syarif Ali berkuasa di Siak
(1784-1811 M), beliau menuntut agar Kerajaan
Pelalawan mengakui Kerajaan Siak sebagai yang
“Dipertuan”, karena beliau adalah pewaris Raja Kecil, putera Sultan Mahmud Syah II Johor. Pelalawan
yang diperintah Maharaja Lela menolaknya. Maka
pada tahun 1797 dan 1798, kerajaan Siak menyerang
kerajaan Pelalawan. Serangan pertama yang dipimpin
oleh Said Syahabuddin dapat dipatahkan kerajaan
Pelalawan, namun serangan berikutnya yang dipimpin oleh Said Abdurrahman, adik Sultan Syarif Ali
dapat menaklukan kerajaan Pelalawan. Sultan Said
Abdurrahman melakukan ikatan persaudaraan yang
disebut “Begito” (pengakuan bersaudara dunia akhirat) dengan Maharaja Lela II, raja Pelalawan yang
dikalahkannya, karena merasa sama-sama
keturunan Johor, kemudian mengangkatnya menjadi
Orang Besar Kerajaan Pelalawan dengan gelar Datuk
Engku Raja Lela Putera. Said Abdurrahman kemudian
dinobatkan menjadi Raja Pelalawan dengan gelar Syarif Abdurrahman Fakhruddin (1798-1822 M). Sejak
itu kerajaan Pelalawan diperintah oleh raja-raja
keturunan Said Abdurrahman, saudara kandung
Syarif Ali, Sultan Siak, sampai kepada raja Pelalawan
terakhir, raja-raja itu adalah:
1. Syarif Abdurrahman (1798 – 1822 M)
2. Syarif Hasyim (1822 – 1828 M)
3. Syarif Ismail (1828 – 1844 M)
4. Syarif Hamid (1844 – 1866 M)
5. Syarif Ja ’afar (1866 – 1872 M)
6. Syarif Abubakar (1872 – 1886 M)
7. Tengku Sontol Said Ali (1886 – 1892 M)
8. Syarif Hasyim II (1892 – 1930 M)
9. Tengku Said Osman (Pemangku Sultan) (1892 – 1930 M)
10. Syarif Harun (Tengku Said Harun) (1941 – 1946 M)

Kirim Saran

Nama

Email

Telepon

Saran