Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Politik. Tampilkan semua postingan

Meski Belum Resmi Harris Berkemungkinan akan Unggul

Written By Unknown on Jumat, 18 Februari 2011 | 09.37

Meskipun belum diumumkan secara resmi oleh Komisi Pemilihan Umum namun kemungkinan Harris akan mengungguli kompetitornya dan berkrmungkinan akan maju sebagai Bupati kabupaten Pelalawan 2011-2016 nanti. kandidat yang diusung dari partai Golkar ini memenangkan suara secara dibeberapa TPS namun pasti atai tidaknya keputusan resmi ada pada KPU Pelalawan.

Masyarakat diharapkan bersabar menunggu hasil rapat pleno hasil resmi penetapan secara resmi dari Komisi Pemilihan Umum. dan siapapun nanti yang akan maju sebagai pemimpin pelalawan kedepan diharapkan bisa memegang amanah rakyat dan mensejahterakan rakyat pelalawan khususnya.

Penting di ingat siapapun nantinya jadi pemimpin lebih memerhatikan pendidikan demi terciptanya SDM yang unggul. Karena pendidikan merupakan ujuk tombak dan sebagai awal perubahan lebih baik. Dengan menurunnya angka kebodohan maka menurun pula angka kemiskinan dibumi pelalawan. Amin....

Namun dalam hal ini berharap siap menanam SDM baru berkualitas dan siap pula memanennya suatu saat kelak... Pendidikan Hal paling utama diperhatikan terutama ditempat pedalaman yang masih rendah tingkat pendidikan. Seperti Desa Lipai Bulan dan sebagainya... Diharapkan ada sosialisasi dan perhatian lebih untuk membuka jalan pikiran sahabat kita mengubah paradigma untuk masa depan yang jauh lebih baik...

Racuni Hati Nurani Rakyat Dengan Membagi-bagikan Uang

Written By Unknown on Rabu, 16 Februari 2011 | 07.47

Ketidak sportipan dalam pemilu dengan menbagi-bagikan uang pada masyarakat ini merupakan racun dan virus2 demokrasi yang harus dimusnahkan. Kalangan tertentu merusak suasana pemilu dengan paraktek 'money politik' haram yang tak sepantasnya membeli hati nurani rakyat dengan uang.

Saya nggak bicara siapa dan siapa dan golongan mana. Namun saya berpikir miris pada golongan manapun yang menghamburkan uang yang tidak pada tempatnya untuk mendapat kemenangan dengan cara membeli hati nurani rakyat. tapi saya yakin masyarakat kita cukup pintar dan mengenal tipikal politisi yang menghalalkan segala cara dalam meraih kemenangan meski lewat parakte haram 'money politik' dengan cara menyogok hati nurani rakyat untuk menuntun tangannta mencoblos koalisinya.

Saya berharap masyarakat berpikir kritis dan memilih secara pintar. Realistis sebelum menduduki jabatan saja sudah melakukan paraktek haram dengan mengahamburkan uang yang tidak pada tempatnya. Dan mencoba bembeli hati rakyat dengan uangnya. Apa jadinya jika tipikal politisi seperti ini menjadi pemimpin negeri ini. ratusan juta rupiah untuk kesuksesan pemilunya dan diakumulasi mustahil akan dikembalikan dalam jangka pangku jabatan lima tahun jika dilihat dari gaji seorang bupati. Masyarakat bisa berpikir jauh kedepan. Setiap uang yang dihamburkan merupakan nilai investasinya yang harus dikembalikan. realistis memang jika menghamburkan dengan sgala cara dan kemungkinan akan mengembalikan dengan sgala cara pula.

Peneturan dari seorang sahabat tentang hal ini menyatakan 'jika ada ngasih uang kita ambil saja namun masalah pilihan tetap pilihan sendiri'. Juga penutuaran ibu rumah tangga yang saya pikir cukup pintar saat oknum tertentu mencoba membeli suaranya mewakili kelompok yasinan 'mereka menawarkan berupa janji dan uang namun uang kami terima dan masalah pilihan kami serahkan ke hati nurani masing'. betapa tingkat pemikiran masyarakat cukup tinggi dalam menilai bahwa tindakan membeli suara rakyat adalah bentuk cerminan pemimpin yang tidak beradab...

Berharap masyarakat kita lebih pintar dan lebih mengtahui gerak gerik pelaku calon pemimpin kita yang tidak terpuji yang merasa kekuatan kekuasaan terletak pada uang. Penggantian paradigma masyarakat tentang paraktek curang pemilu merupakan tindakan yang mencerminkan burukanya moral calon pemimpin tersebut. Dan layaknya budaya politisi buruk ini hendaknya bisa kita perangi bersama.

Mahasiswa sebagai golongan pelajar hendaknya menjadi pahlawan dan membimbing masyarakat kita yang mungkin masih berpikir logika untuk menggunakan hati nuraninya dalam memilih. Memberi pangarahan tentang budaya2 politisi dalam berbuat cuarang dalam pemilihan. Penyuluhan sosial mengenai 'money pilitik' misalnya...

Maraknya money politik seakan menjadi budaya politisi tertentu yang seakan dibiarkan dengan lemahnya manajemen dan kebijakan pemilu. Pemerintah bisa saja mengluarkan kebijakan dan berhak dikualifikasi jika ada calon pemimpin yang melakukan pelanggaran dalam hal pemilu. Misalnya 'money politik' dengan membeli atau mencoba menyogok hati nurani masyarakat untuk kepntingannya. Dan jika terbukti dan dibuktikan secara real bisa dikenakan sangsi diskualifikasi. Perlunya cek n ricek hasil pemilu sehat dan tidak cacat demokrasi sangat menentukan pemimpin tepat dalam negeri ini. Dan jika terbukti secara real kebenarannya langsung didiskualifikasi dan jabatan dilimpahkan pada calon pemimpin yang lebih bersih dan jujur dibawah suara yang telah didiskualifikasi.

Negeri ini seolah menutup mata pada kelemahan tanpa melakukan perbaikan pada tiap2 celah kekurangan yang ditemui. budaya reformasi dalam pembaharuan terus menerus mencakup dalam sgala sistem yang ditemui menuai kelemahan dan sekan menjadi budaya seperti halnya 'money politik' seolah bangsa ini dicerminkan. Siapa yang memiliki uang dialah penguasa tanpa harus tau uang tersebut dugunakan di jalan haram demokrasi...
Bangsa ini terbagi dalam beberapa elemen saja sebagi contoh politi, ekonomi, budaya dan sosial, keamanan, kesehatan dll. Yang memiliki sistem masing2. Sistem perekonomian, sistem keamanan, sistem politik dll... Yang memerlukan pembaharuan ditiap celah kelemahan yang ditemui dalam hal penyempurnaan sistem... Karena apapun itu bergantung pada sistem dan pola yang dirancang secara benar. Bagaimana sistem perpolitikan kita ? Sejauh mana perkembangannya ? apa saja yang melenceng dari sistem ? Apa saja kelemahannya ! Dan jadi pertanyaan mendasar. Adakah perbaikan pada kelemahan sebuah sistem agar menjadi sebuah sistem yang disempurnakan. Dalam hal matemetika sistem ini bisa diumpamakan sebagai rumus atau formula untuk mendapatkan hasil yang benar.

Dalam hal money politik yang seolah menjadi budaya didunia perpolitikan di indonesia tentunya juga akan membudayakan praktek korupsi, belum punya kebijakan saja sudah curang, belum jadi pemimpin saja sudah Berani menyuap rakyat. dalam hal ini tidakkah negeri ini menemuai kelemahan pada sistem perpolitikannya. Tidakkah menemumukan solusi perbaikan dalam sistemnya. . . Bangsa ini akan besar jika mau belajar dari kelemahannya sebagai acuan dan nenjadi kekuatan untuk masa yang akan datang...

Saya muak dan benci sama calon pejabat yang mencoba praktek haram money politik dengan membeli hati nurani rakyat untuk kepentingannya. Berpesta pora seolah dialah pemengnya. anehnya hal ini menjadi budaya politik negeri ini. . . Dimana pemimpin dunia perpolitikan di indonesia. . ?

Politik dan Timnas Skuad Garuda Indonesia

Written By Unknown on Rabu, 29 Desember 2010 | 00.16

Beginikah Politik... Untuk mengangkat nama dimata publik sering kali memamfaatkan sebuah ketenaran untuk golongan tertentu. Politik slalu ada dalam segi kehidupan... Berbagai cara dilakukan untuk mengangkat namanya dimata publik dengan memanfaatkan ketenaran seseorang.. Dikalangan selebritis tentunya beberapa waktu silam... Skenario tlah dimainkan memamfaatkan ketenaran seorang kiyai sejuta umat untuk mengangkat namanya dimata publik yang hampir karam digelombang arus zaman...

Dan kali ini semarak timnas geruda untuk piala AFF tlah menjadi sorotan seluruh media dan jadi perbincangan hangat dikalangan generasi muda, anak2 bahkan orang tua.. Justru ini jadi kesempatan para politisi tertentu untuk ikut ambil andil dalam moment tersebut...

Berikut Coretan Indah dari E.S ITO Untuk Timnas garuda Indonesia yang didalamnya mengandung unsur politik...

"Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan
usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana
tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki
jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta
beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita
disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda
yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti
mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita
tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik
uang membunuh nurani mereka. Orang tua,
pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi
yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang
mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita
berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi
seperti mereka?
Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak
pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita
hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita
tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita
hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi
kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah
kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita
hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi
langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka
yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam
keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau
mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli
dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-
umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci
muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan
kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.
Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin
tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre
tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang
bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan
rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna
solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang
tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan,
menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa
masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan,
membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah
buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi,
semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu
hendak digunakan untuk mencuci dosa politik.
Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming
bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau
tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau
akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup
bermain dengan gembira.
Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola
Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada
urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol
hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola
tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab
harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di
lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir
lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa,
kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan
dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto,
Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-
kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha
seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan
yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus,
gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan
tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian
lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa
yang miskin teladan.
Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini
hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada
seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak
mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa
seorang tukang becak sama bahagianya dengan
tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak
butuh piala, bermainlah dengan gembira
sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir,
menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada
seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan
menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber
pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya
seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan
menjadikan kalian teladan!"

Azmun Minta Warga Pelalawan Dukung Khalil

Written By Unknown on Senin, 08 November 2010 | 10.11





Deklarasi pasangan Khalil-Tamrin diwarnai peristiwa unik. Mantan Bupati Pelalawan Tengku Azmun Jaafar yang tengah menjalani masa hukuman berorasi lewat telephon, minta warga mendukung pasangan ini.



Riauterkini-PANGKALANKERINCI- Mantan Bupati Pelalawan Tengku Azmun Jaafar ikut memberikan sambutan secara langsung via telepon seluler, pada acara deklarasi pasangan Tengku Khalil Jaafar-Husni Tamrin Ahad (07/11/10) dilapangan Sepakbola Pangkalankerinci. Pada kesempatan tersebut Azmun hampir lima menit memberikan sambutan langsung dari Lembaga Pemasyarakatan Cipinang yang dihubungkan ke pengeras suara. Tak ayal, secara spontan satu persatu air mata masyarakat berjatuhan mendengar sambutan Azmun tersebut.

Kurang lebih limat menit durasi sambutan Azmun tersebut dimamfaatkan betul, untuk mencurahkan perasaanya demi kabupaten Pelalawan. Sambil terisak-isak Azmun terus bersemangat menyampaikan sambutanya, untuk masyarakat kabupaten Pelalawan. Mengawali sambutanya, Azmun beberapa kali menyampaikan ucapan selamat. Pada kesempatan tersebut ia menegaskan bahwa saat ini kondisi fisiknya dalam keadaan sehat. Meski dirinya telah berpisah jauh dengan masyarakat kabupaten Pelalawan namun, setiap hari dirinya terus memantau Pelalawan.

"Saya begitu sedih melihat dan mendengar kondisi kabupaten Pelalawan saat ini. Bahkan saya mendengar kabar ada gedung baru hingga saat ini belum diresmikan. Jalan-jalan banyak tidak terurus, bahkan kabupaten Pelalawan masuk kategori kabupaten miskin," urainya.

Beranjak dari kondisi seperti itu lanjut Azmun. Kabupaten Pelalawan butuh pemimpin yang punya visidan misi yang jelas. Dulu sewaktu dirinya memimpin kabupaten Pelalawan, ia sering meminta masukan dari abang kandungnya yakni Khali Jaafar. "Selama saya menjabat sebagai bupati saya sering minta masukan dari abang saya Khalil tentang kabupaten Pelalawan kedepan, jadi saya banyak bertukar fikiran tentang segala demi kabupaten Pelalawan, sehingga kabuoaten Pelalawan bisa bersaing dengan kabupaten lainm," imbuhnya.

Berpijak dari alasan tersebut, maka tegasnya, Khalil yang berpasangan dengan Tamrin. Mampu membawah perubahan bagi kabupaten Pelalawan. "Abangda saya dan dinda Husni Tamrin, saya optimis bisa membawa Pelalawan ke arah yang lebih baik. Sebab sebelumnnya saya juga banyak meminta masukan dari yang bersangkutan.***(feb)
Sumber : www.riauterkini.com

Khalil-Tamrin Berduet Maju Pemilukada Pelalawan

Written By Unknown on Rabu, 27 Oktober 2010 | 03.21

Tengku Khalil Jaafar dan Ketua PBR Pelalawan Husni Tamrin sepakat berpasangan dalam pemilukada Pelalawan 2011 mendatang, sementara ada lima partai yang akan mengusungnya.

Riauterkini-PANGKALANKERINCI-Eskalasi politik dikabupaten Pelalawan terus berubah-rubah. Misalnya, Tengku Khalil Jaafar digadang-gadangkan berduet dengan Herman Maskar justru tanpa tau penyebab kandas ditengah jalan. Kini Kalil sepakat berpasangan dengan Ketua PBR Pelalawan Husni Tamrin. Kedua pasangan ini sudah bertekad bulat maju satu paket sebagai pasangan Bupati dan Wakil Bupati Pelalawan pada Pemilukada 2011 mendatang.

"Semuanya bisa saja terjadi. Saya dan Husni Tamrin siap berduet maju pada Pemilukada Pelalawan. Segala sesuatunya, tidak ada masalah lagi. Sampan kita sudah siap dilayarkan. Hal ini dibuktikan dukungan lima kursi di DPRD Pelalawan sebagai salah satu syarat mutlak mendaftar ke KPUD," terang Khalil menyikapi perkembangan politik dikabupaten Pelalawan, Selasa (26/10/10).

Menurutnya kelima partai yang sudah menyatakan dukungan tersebut papar Kalil, antara lain Partai Bintang Reformasi (PBR) dengan perolehan dua kursi, Partai Kedaulatan satu kursi, Partai Repulbilkan satu kursi, Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI) satu kursi, Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) satu kursi. "Semua partai ini sudah menyatakan tekad mengusung pada Pemilukada Pelalawan, bahkan siap memenangkannya," papar Khalil.

Abang kandung mantan bupati Pelalawan optimis menang pada Pemilukada Pelalawan. Terlebih lagi, sosok Azmun Jaafar sangat berpengaruh besar dikabupaten Pelalawan. Apalagi katanya, figur Husni Tamrin juga memberikan warna baru. Selain itu jelasnya (Tamrin red) sebagai sosok tokoh muda yang enerjik juga mempunyai jabatan multy organinsasi dikabupaten Pelalawan.

Sementara itu, Husni Tamrin, ketika dimintai tanggapannya terkait, mau menjadi pendamping dengan Khalil. Dengan nada santai ia mengatakan, didunia politik semua bisa saja terjadi. "Politik tidak sama dengan ilmu pasti. Semuanya bisa saja terjadi. Kemarin A sekarang Z itu wajar-wajar saja dan itulah politik yang sesungguhnya," terang Tamrin via ponselnya.

Bila sebelumnya,Tamrin ngotot maju dengan nomor satu kini justru melunak. Kata Tamrin, alasan mau menjadi nomor dua dan berpasangan dengan Khalil adalah berdasarkan pertimbangan yang sangat matang. "Suatu hal yang wajar, saya dan pak Khalil siap bersama memenangkan Pemilukada Pelalawan," tandasnya.***(feb)

Sumber : www.riauterkini.com

The Psikologis Of Social Political

Written By Unknown on Minggu, 24 Oktober 2010 | 07.11

Pragmatisme merupakan sifat atau ciri seseorang yang cenderung berfikir praktis, sempit dan instant. Orang yang mempunyai sifat pragmatis ini menginginkan segala sesuatu yang dikerjakan atau yang diharapkan ingin segera tercapai tanpa mau berfikir panjang dan tanpa melalui proses yang lama. Sehingga kadang hasilnya itu meleset dari tujuan awal.

Biasanya sifat ini identik dengan orang yang kurang penyabar dan ambisius. Orang yang ambisius ini selalu melakukan sesuatu atau melakukan perubahan secara cepat. Sehingga tidak heran kalau orang seperti ini mempunyai keinginan yang keras dan tidak mau dikalahkan oleh orang lain. Tapi, sifat ambisius ini cenderung bersifat ke hal yang negatif, mereka melakukan segala macam cara untuk mencapai keinginannya.

Salah satu contoh kecil pragmatisme mahasiswa yang terjadi di universitas adalah ketidakjujuran akademik. Permasalahan ini merupakan permasalahan yang sangat klasik yang terjadi dalam dunia pendidikan. Misalnya dalam menempuh ujian, banyak sekali mahasiswa yang berlaku curang dalam dalam ujian seperti membuat contekan-contekan, mereka menulis ringkasan pelajaran dalam kertas-kertas kecil.

Apalagi dengan kecanggihan tekhnologi sekarang ini, mahasiswa dengan mudahnya mengakses segala macam informasi yang mereka inginkan dari internet. Dengan membawa sebuah hand phone yang disertai dengan kecanggihan dalam mengakses informasi. Sehingga mereka dengan mudahnya mendapatkan jawaban yang diinginkan tanpa berfikir secara panjang. Hal itu mereka lakukan untuk mendapatkan nilai semaksimal mungkin, minimal tidak D.

Kepraktisan inilah yang menghambat pemikiran mahasiswa untuk mengeksplorasi pemikirannya. Sehingga mereka tidak lagi berfikiran secara kritis ketika menghadapi sebuah masalah. Dunia pendidikan tidak membenarkan hal tersebut tapi hal tersebut sudah mengakar dalam diri mahasiswa.

Sekalipun mahasiswa tersebut sangat pandai pasti sekali atau dua kali tentunya pernah menyontek. Hal ini pernah diutarakan oleh seorang aktivis ketika mengkampanyekan “Anti Korupsi Dimulai Dari Diri Sendiri”. Beliau merupakan salah satu mahasiswa yang tergolong sangat pandai dikalangan universitasnya. Beliau saja sudah mengaku kalau pernah melakukan korupsi dalam ujian, yaitu menyontek. Sehingga tidak dapat dipungkiri kalau dalam jiwa setiap mahasiswa pastinya terdapat sifat pragmatis meskipun presentasinya kecil maupun besar karena pribadi orang itu berbeda-beda.

Sebenarnya pengawasan dosen penguji ketika ujian seakan tidak cukup mengamati lipatan-lipatan kertas yang sengaja di buat oleh mahasiswa untuk meraih nilai maksimal. Mengkopi sumber-sumber dari buku maupun internet merupakan hal yang sudah biasa dilakukan mahasiswa sekarang ini. Sehingga hal tersebut dapat mengurangi kekritisan pemikiran mahasiswa dalam mengeksplorasi masalah yang dihapinya.

Kondisi mahasiswa yang jauh dari etika akademik ini tidak bisa dilepaskan dari factor eksternal tuntutan indeks prestasi tinggi. Lagi-lagi pengukuran hasil belajar secara kuantitatif tetap menarik untuk diperdebatkan. Mahasiswa mengikuti perkuliahan hanya untuk mengejar nilai minimal tidak D, bahkan mengumpulkan tugas-tugas kuliah asal tepat waktu. Tidak dibantah dan mahasiswa berfikir sama bahwa dosen tidak mungkin memeriksa keseluruhan tugas mahasiswa, akibat kesibukannya yang padat.

Mahasiswa memang mendapatkan nilai untuk tidak mengulang di semester depan, tetapi terdapat kemungkinan menihilkan proses ilmiah, seperti membaca literatur, mengakses informasi dan memahami materi kuliah secara komprehensif.
Disamping itu, mahasiswa juga memiliki "guru virtual". Dalam leksikon Jawa, kata guru diakronimkan dengan ungkapan "digugu lan ditiru". Saat ini televisi relatif dijadikan guru maya mahasiswa.

Hampir minim tayangan televisi yang menengahkan aspek-aspek ilmiah serta menyuguhkan etos belajar dan perjuangan di bangku pendidikan formal. Mahasiswa relatif meniru dan mengikuti pesan dari guru virtualnya yang tak terbantahka memiliki daya pengaruh luar biasa.
Fenomena pragmatisme mahasiswa ini, akhirnya justru membuka peluang bagi tumbuhnya jasa penyusunan skripsi. Mendapatkan rupiah melalui lahan ini cukup prospektif sambil terus meninabobokan budaya instan mahasiswa. Namun, adanya bisnis tersebut justru makin merunyamkan dunia Perguruan Tinggi yang telah tercoreng dengan kebijakan biaya mahalnya.

Diperlukan tindakan tegas untuk memperkarakan secara hukum tukang jasa skripsi agar kredibilitas Perguruan Tinggi dalam mencetak lulusan tetap terjaga. Upaya menghadirkan etika akademik hendaknya terus dilakukan untuk melahirkan lulusan mahasiwa yang memiliki kompetensi ideal. Mahasiswa yang menguasai konsep dan pengetahuan secara luas dan mendalam terkait program studinya serta memiliki akuntabilitas untuk manampilkan unjuk kerja secara profesional di tanah publik.
Created By. Mahyudin

Pandangan Ketua Forkomafel Terhadap Suhu Politik Menjelang Pilkada Pelalawan

Written By Unknown on Kamis, 21 Oktober 2010 | 09.27

Mahyudin Riau 21 Oktober jam 22:53 
Pertikaian antar elit politik yang saling berebut, dalam kontek independensi dan substansi gerakan reformasi, samasekali tidak ada hubungannya. Sekalipun dalam implementasinya, keberhasilan gerakan reformasi mahasiswa memerlukan dukungan taktis dari kekuatan lain yang signifikan. Namun demikian, bukan berarti mahasiswa tidak dapat menentukan platform dan keberanian melakukan tindakan tanpa kekuatan lain. Gerakan moral yang sudah melampaui proses rasionalisasi dan tersosialisasi, dalam waktu yang cepat akan menjalar kerumah-rumah, ke sekolah-sekolah, ke kantor-kantor,ke tempat-tempat ibadah, ke barak-barak tentara, tersiar dari pantai hingga ke pegunungan dan masuk kedalam sanubari seluruh rakyat yang masih mendambakan kebenaran, untuk turut mendukung apa yang tengah dilakukan oleh mahasiswa. Itulah Idealisme. Idealisme mahasiswa tidak pernah dapat dihalangi oleh rintangan dan ancaman. Idealisme memiliki matahati dan nuraninya sendiri yang mandiri.


Kirim Saran

Nama

Email

Telepon

Saran