Tuah Negeri Pada Generasi

Written By Unknown on Kamis, 06 Januari 2011 | 11.54

DALAM hiruk-pikuk perselisihan inter dan
antargenerasi untuk membela berbagai kepentingan,
disadari atau tidak, para pendidik sering
menomorduakan persoalan alih generasi. Alih
generasi memang pasti terjadi, direncanakan atau
tidak. Tetapi tentu dengan kualitas yang berbeda. Jelas, yang dituju adalah alih generasi yang positif dan
berkesinambungan berdasarkan kerukunan generasi,
bukan yang dipaksakan dan penuh masalah karena
dilandasi oleh konflik generasi. Akan teta-pi, alih
generasi yang positif tidak dapat terwujud tanpa
usaha yang sesuai. Padahal kita tidak boleh gagal karena alih generasi berkaitan langsung dengan
eksistensi bangsa. Di sinilah para pendidik diimbau untuk berperan.
Dalam dua hal alih generasi kali ini harus mendapat
prioritas melebihi dari yang sudah-sudah. Pertama,
kita sedang berada dalam satu situasi pergolakan
nasional yang muskil, yakni karena situasi itu adalah
situasi konflik generasi. Kedua, kita berada di awal era kesejagatan yang merupakan masalah baru di
dalam sektor pendidikan; masalah, yang di dalam 25
tahun mendatang akan menjadi ujian berat bagi
ketahanan bangsa ini; apakah kita dapat tumbuh lebih
handal ataukah kita hanya menjadi bangsa marginal. Kedua situasi tersebut melibatkan generasi muda,
dan kedua-duanya sangat berpengaruh terhadap
kualitas bangsa. Pada tingkat nasional, seharusnya
generasi tua menyibukkan diri menyiapkan generasi
muda, memberikan yang terbaik kepada mereka
sebagai bekal di masa depan. Di lain pihak, generasi muda seharusnya banyak belajar dan mengambil
hikmah dari pengalaman, kearifan, bahkan kesalahan
yang telah dilakukan oleh generasi lama, untuk
dijadikan pelajaran mengelola masa depan.
Seharusnya kedua generasi bahu-membahu
menciptakan sejarah masa depan yang gemilang. Tetapi yang terjadi adalah sebaliknya. Mereka
bertikai. Pendidikan generasi muda akhirnya telantar. Pada tingkat global, generasi muda menghadapi
situasi yang lebih muskil. Dalam alih generasi kali ini,
generasi muda akan langsung dihadang oleh arus
kesejagatan dengan peraturan permainan yang
sampai sekarang belum lagi terjamah oleh sektor
pendidikan. Sampai hari ini, pendidikan masih terlalu terikat oleh belenggu masa lalu, sehingga
kemampuan untuk mengantar remaja dan generasi
muda ke masa depan, tidak tampak. Ketiadaan
persiapan yang adekuat menyebabkan generasi
muda kekurangan kemampuan untuk bersaing di
dunia luas yang hiperkompetitif. Menghadapi tantangan masa depan, para pendidik sendiri pun
sudah kehilangan pegangan. Apabila mereka sendiri,
di dalam menghadapi arus globalisasi, sekarang saja
sudah terasing, sejauh mana kita masih bisa berharap
bahwa mereka dapat turut membangun masa depan? Alih generasi melibatkan dua generasi, dan tidak satu
di antaranya yang dapat mengklaim sebagai
kekuatan penentu. Generasi tua tidak dapat terus
berjalan sendiri, mereka akan berlalu. Generasi muda
juga tidak dapat berjalan sendiri, mereka
membutuhkan masa lampau dan sekarang, untuk membangun masa depan. Karena itu, konflik generasi
selalu berakibat fatal terhadap kehidupan bangsa.
Padahal, alih generasilah yang mencerminkan
kesinambungan generasi. Lebih dari sekadar
kesinambungan, ia berkaitan langsung dengan
survival dan eksistensi bangsa. Adakah lagi peristiwa lain yang begitu langsung menentukan keadaan ini,
selain alih generasi? Kalau ini adalah hal yang begitu
penting, apakah yang telah kita rintis di dalam
pendidikan generasi? Sudahkah dirumuskan visi
kependidikan kita bersama, ke mana bangsa ini akan
pergi 20, 30, 50 tahun mendatang? Apakah strategi kita untuk memastikannya? Tidak jelas. Lalu, apa hak kita untuk berpretensi menyiapkan
mereka menghadapi hari depan yang gemah ripah
loh jinawi, kalau apa yang menyita kehidupan kita
sekarang adalah perjuangan melawan tirani
kekurangpedulian kita sendiri di masa lalu? Sebagai
pendidik, kita memang telah turut menulis sejarah sampai hari ini, tetapi bukan sejarah kegemilangan.
Bukan sejarah yang membuat anak cucu kita
berbangga menjadi bangsa Indonesia. Bukan sejarah
yang mengilhami mereka untuk membela negara ini.
Bukan sejarah yang memotivasi mereka untuk
bergairah melanjutkan penulisan sejarah. Walaupun begitu, generasi yang sudah telanjur belajar tidak
peduli-dengan pendidikan yang tepat guna-dapat
belajar bukan hanya membuang ketelanjuran
tersebut, tetapi sekaligus belajar membangun dan
menebalkan kepedulian berbangsa. Masalahnya
sekarang, di mana pendidikan yang tepat guna itu? *** PENDIDIKAN yang tepat guna, yang benar-benar tepat
guna, belum terwujud. Pendidikan yang lebih
mementingkan rutinitas, stabilitas, dan konformitas,
bukan pendidikan yang tepat guna. Pendidikan yang
berubah fungsi menjadi alat politik, dapat berguna
bagi kepentingan politik, tetapi masih sangat diragukan kegunaannya bagi kepentingan generasi
muda. Karenanya, pendidikan itu pun bukan
pendidikan tepat guna. Program yang bersistem dan
yang teratur, yang memudahkan para pendidik untuk
menerapkannya, belum dapat dikatakan pendidikan
yang tepat guna. Kegunaan pendidikan di mata pendidik tidak lantas menjadikan pendidikan tepat
guna. Selagi tidak berguna di mata anak didik,
pendidikan tetap tidak tepat dan tetap tidak berguna.
Ketepatgunaan sebuah pendidikan hanya dapat
ditentukan dari kepentingan anak didik. Karena
kepentingan anak didik adalah di masa depan, maka tidak ada pendidikan yang tepat guna apabila ia gagal
menghasilkan blueprint masa depan. Namun, sebaiknya sekarang kita belajar dari
pengalaman (baca: kesalahan) masa lalu, bahwa
belum cukup apabila kita mampu membuat blueprint
saja. Sudah berapa banyak perubahan atas nama
pembaruan, yang kita telah intervensikan di masa lalu
di dalam sektor pendidikan. Begitu banyak, sehingga sebenarnya bukanlah pendidikan kita tidak pernah
berubah, tetapi sudah terlalu banyak berubah. Kita
bergerak dari blueprint yang satu ke blueprint yang
lain, tanpa masa uji dan alasan yang jelas. Atau
pakailah istilah sekarang: pendidikan kita sudah over
reformed! Tetapi begitu pun, dampaknya belum lagi terasa, karena bukan hanya blueprint yang
menentukan. Seringkali memang desain perubahan
sudah salah sejak semula. Akan tetapi walaupun ada
yang betul, kelemahannya ialah karena blueprint
yang dihasilkan tidak didukung oleh budaya dan
kondisi yang kondusif. Ini berarti bahwa bersama dengan lahirnya blueprint pembaruan, perlu juga
diciptakan budaya kependidikan yang kompatibel,
dan kondisi lingkungan yang mendukung. Budaya apa yang kita miliki sekarang yang dapat
dianggap kompatibel dengan aspirasi pendidikan
untuk mencerdaskan kehidupan bangsa? Apakah
ukuran kecerdasan kehidupan bangsa sama saja di
dalam budaya yang feodal dengan di dalam budaya
demokratis? Jelas tidak. Kalau begitu problematik pendidikan menjadi lebih berat untuk menanamkan
benih berbangsa demokratis di dalam persemaian
budaya feodal. Apakah kondisi keharmonian hidup
antargenerasi berakibat sama dengan kondisi
perpecahan generasi? Jelas tidak. Karena itu, semakin
sukar lagi tugas pendidikan untuk mendidikkan semangat persatuan dan kesatuan di dalam alam
perpecahan. Sektor pendidikan di dalam banyak hal
tidak berdaya menjinakkan, menetralkan, apalagi
melawan dampak kehidupan yang diwarnai dengan
berbagai manifestasi yang negatif, yang pada
dasarnya antipendidikan. Namun, kekuatan dampak kondisi yang tidak
mendidik itu, di dalam realitas seringkali seperti
menghilangkan dampak pendidikan, sehingga kita
dapat bertanya apakah memang sudah seharusnya
begitu. Kalau benar sudah seharusnya demikian,
maka bagaimanapun usaha para pendidik, mereka akan tetap fight the loosing battle; sudah kalah
sebelum berjuang. Kalau benar begitu, maka
sepanjang hayat, pendidikan tidak pernah berguna!
Ataukah fenomen ketidakberdayaan pendidikan
disebabkan karena para pendidik sendiri belum tiba
pada kesadaran, apalagi pada keyakinan, bahwa setiap usaha pendidikan dengan desain yang benar,
dengan budaya yang benar, dengan kondisi yang
benar, dengan pengelolaan yang benar, dan dengan
implementasi yang benar, melahirkan dampak yang
benar. Dampak yang kuat, mengalahkan dampak-
dampak negatif yang tidak diinginkan. Ini sebuah tantangan besar, dan sektor pendidikan harus
menghadapinya. *** ALIH generasi yang kali ini sedang terjadi berlangsung
di dalam kondisi yang tidak benar, yakni di dalam
kondisi tercabarnya persatuan dan kesatuan bangsa.
Di dalam keadaan demikian, maka justru sektor
pendidikanlah yang harus tampil ke depan dengan
desain yang kuat, untuk menjamin tetap tumbuhnya rasa kesatuan, rasa persatuan, tekad keindonesiaan,
di dalam dada setiap anggota generasi muda. Sebab
apabila tidak, dari mana lagi kita harapkan kekuatan
pembinaan yang positif; bahkan mungkin kita dapat
selanjutnya bertanya, apakah masih perlu kita
berbicara mengenai alih generasi. Alih generasi kali ini juga menghadapi kondisi lain,
yang belum pernah dihadapi di masa lalu, yakni
kondisi hidup kesejagatan yang ditandai oleh
persaingan terbuka antara bangsa-bangsa. Generasi
muda sekarang inilah yang akan beralih dari kondisi
nasional yang tidak mantap ke kondisi global yang hiperkompetitif. Sekali lagi, harapan eksistensi bangsa
kita gantungkan pada sektor pendidikan. Sampai di
mana kesiapan kita? Sektor mana lagi yang dapat memberdayakan
generasi muda sehingga mereka siap untuk
bertarung, dan siap untuk membawa bangsa ini
sebagai bangsa yang terhormat, dan bukannya
bangsa yang tersisihkan, kalau bukan sektor
pendidikan? Pemberdayaan tersebut, untuk dapat menjadi tepat guna, perlu memahami problematik
masa depan. Pemberdayaan tersebut bukan reaktif,
tetapi antisipatif. Akan tetapi, sejauh manakah desain
pendidikan kita sekarang adalah pendidikan masa
depan yang antisipatif dan yang kompetitif? Melihat
pada desain yang ada, kita belum dapat menyimpulkan bahwa pendidikan kita sudah siap
mengantar generasi muda sebaik-baiknya kepada
kehidupan yang menanti (mungkin menghadang)
mereka. Setelah lebih dari setengah abad, dari tahun ke tahun
kita hanya mampu menginventarisasi kegagalan
pendidikan. Tidak banyak orang yang suka
menerimanya dengan lapang dada, terutama yang
berada di dalam jajaran pengelolaan. Namun,
sungguh sukar menunjuk pada sebuah prestasi maha besar, maha signifikan, yang dapat dipandang
sebagai tonggak sejarah kebangkitan pendidikan di
negara ini. Kita terpaksa bertanya lagi; begitu
sukarkah mendesain pendidikan yang begitu
diperlukan oleh bangsa ini umumnya, generasi muda
khususnya? Begitu tipiskah kepekaan dan kemauan politik kita untuk membuktikan bahwa pendidikan
adalah tiang utama di dalam pencerdasan kehidupan
bangsa ini? Kalau bukan karena semua itu, apakah
biang keladinya? Melihat dari kecenderungan perjalanan pendidikan
nasional sejak kemerdekaan sampai hari ini, kondisi
kependidikan negara ini masih juga akan jalan
terseok-seok dari generasi demi generasi, mungkin
50 tahun lagi, mungkin lebih, kecuali apabila
sekarang, bukan besok, kita berani dan bertekad mengambil sebuah keputusan yang lebih mendasar;
mengadakan perombakan sektor pendidikan secara
menyeluruh, dan menjauhkan diri dari pola
perombakan parsial. Bangsa ini tidak dapat dibangun
melalui proyek-proyek semata-mata. Sudah terbukti
bahwa pada akhirnya yang dicapai hanya keindahan secara kosmetik. Jadi, kalau kita mempunyai
determinasi itu, dari manakah sekarang pembaruan
itu kita mulai? Pembaruan harus kita mulai dari diri
sendiri. Mungkin itu biang keladinya.

Oleh Winarno Surakhmad

Mengenal Budaya Pelalawan

Written By Unknown on Rabu, 05 Januari 2011 | 10.20

Kebesaran Kebudayaan Pelalawan

Pelalawan adalah salah satu daerah yang memiliki jejak sejarah kebudayaan Melayu yang cukup besar. Jejak kebudayaan ini ditinggalkan oleh kerajaan besar
yang pernah menguasai wilayah ini, yaitu Kerajaan Pelalawan yang dahulu berpusat di pinggiran sungai Kampar. Kerajaan Pelalawan merupakan pewaris dari Kerajaan Kampar. Dari nama Kerajaan Pelalawan inilah konon nama Kabupaten Pelalawan diambil. Kerajaan Pelalawan berdiri tahun 1725 dan mulai terkenal pada masa pemerintahan Sultan Syed Abdurrahmman yang bergelar Assyaidis Syarif Abdurrahman Fachrudin yang memerintah pada tahun 1811–1822. Kerajaan Pelalawan terakhir diperintah oleh seorang penguasa yang bernama Tengku Said Haroen yang bergelar Assyaidis Syarif Haroen bin Hasyim Fachrudin Tengku Besar Kerajaan Pelalawan, yang memerintah pada tahun 1940 –1945. Pada saat kemerdekaan Republik Indonesia, tepatnya pada tanggal 20 Oktober 1945, Tengku Said Haroen bersama orang-orang besar kerajaan Pelalawan menyampaikan pernyataan taat setia dan bersatu dalam negara Republik Indonesia. Tengku Said Haroen
sendiri akhirnya mangkat pada tanggal 21 November tahun 1959 di istananya di Pelalawan. Atas Jasa- jasanya kepada bangsa dan negaranya, melalui Musyawarah Orang-orang Besar Kerajaan, beliau dianugerahi gelar Marhum Setia Negara. Rakyat kerajaan Pelalawan waktu itu konon adalah orang-orang Melayu yang terbagi dalam dua wilayah adat, yaitu masyarakat Adat Melayu Pesisir dan Masyarakat Adat Melayu Petalangan. Masyarakat inilah yang saat ini mayoritas menjadi penduduk Kabupaten Pelalawan. Namun, seiring dengan perkembangan daerah ini, penduduk Pelalawan saat ini sudah sangat beragam. Ada yang berasal dari Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh, Jawa dan lain- lain. Menurut situs resmi Kabupaten Pelalawan, jumlah penduduk pada saat ini lebih kurang mencapai 208.373 jiwa (http://www.pelalawankab.go.id/). Kabupaten Pelalawan merupakan salah satu Kabupaten yang baru dimekarkan di wilayah Propinsi Riau pada tanggal 12 Oktober 1999. Sebelumnya, Kabupaten Pelalawan menjadi satu dengan Kabupaten Kampar. Saat ini, Kabupaten Pelalawan memiliki luas wilayah lebih kurang 12.490,42 km² yang meliputi dua belas kecamatan, yakni Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kecamatan Langgam, Kecamatan Pangkalan Kuras, Kecamatan Pelalawan, Kecamatan Bunut, Kecamatan Ukui, Kecamatan Pangkalan Lesung, Kecamatan Kerumutan, Kecamatan Teluk Meranti, Kecamatan Kuala Kampar Kecamatan Bandar Sikijang, dan Kecamatan Bandar Petalangan. Dengan wilayah yang begitu luas, Pelalawan memiliki kekayaan budaya maupun alam yang melimpah, mulai dari istilah, permainan rakyat, peralatan tradisional, tumbuhan, hingga hewan. Kekayaan tersebut hingga kini masih cukup terjaga dan dikelola oleh pemerintah kabupaten dan bekerjasama dengan dinas pariwisata. Salah satu daerah yang masih terjaga adalah taman suaka marga satwa Kerumutan.
Taman ini terletak di Desa Kerumutan. Taman Kerumutan ini dapat ditempuh dengan kendaraan darat dari Pangkalan Kerinci selama lebih kurang 2 jam perjalanan atau 2 jam dari Pekanbaru. Taman ini berupa hutan dengan luas ± 93.222.20 Ha. Di dalamnya tumbuh dan hidup aneka macam pepohonan dan hewan yang dilindungi. Di antaranya Meranti (Shorea sp), Punak (Tetrameriota Glabra mig), Perupuk (Solena permum javanicum), Nipah (Nypa fructicons), Rengas (Gluta rengas), dan Pandan (Pandanus sp). Adapun hewan-hewan yang hidup di sana antara lain Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatraensis), Harimau Dahan (Neovoles nebulosa), Beruang Madu (Helarctos malayanus), Enggang (Buceros rhinoceros), Monyet (Mocacafa scicularis), Kuntul Putih (Egretta intermedia), Ikan Arwana (Slhleropoges formasus), Owa (Hylobutes moloch), dan Itik Liar (Cairina scutulata). Selain kekayaan hutan, Pelalawan juga kaya dengan hasil adat dan kesenian. Hal ini dapat terlihat dengan masih adanya pemberian gelar pembesar maupun penobatan-penobatan lain yang merupakan warisan dari seremoni yang dilaksanakan oleh sultan-sultan terdahulu. Berbagai aktivitas kesenian juga tumbuh dan tetap dilestarikan di kalangan masyarakat, seperti seni sastra (nyanyian panjang, pantun, bidal, dan menumbai), seni musik (gambus, kompang, gendang, nafiri, ketobang, dan gambang), dan seni tari (zapin, joget, bagendong, belian, badewo, dan silat
Payung). Terdapat juga seni kerajinan seperti anyaman pandan, daun kopau, bambu, pertukangan kayu, dan sulaman. Yusuf Efendi

Pelajar Kreatif penuh Insfiratif

Ayo Belajar mengejar mimpi dan raih cita2 mu
setinggi mungkin sesuai harapan dan cita mu
bersama Google sehat.... Kemajuan tekhnologi imformasi saat ini semakin
memudahkan kita mencari tahu apa yang ingin kita
ketahui. Bagaimana penulis menerangkan bagaimana
cara bersahabat dengan tekhnologi sebagai guru
private kita untuk belajar agar power full. Disini
penulis merekomendasikan www.google.com sebagai sahabat sekaligus guru private kita tuk
mengejar mimpi dan harapan kita... Penulis akan menerangkan sedikit tentang situs
pencarian yang terkenal didunia www.google.com
sebagai media informasi terluas. Nah dengan bantuan
www.google.com ini imformasi yang kita butuhkan
bisa kita dapatkan dengan segera dari berbagai
narasumber. kemudahan tekhnologi saat inipun bervariasi dan www.google.com pun saat ini juga
bisa diakses melalui handphone genggam. Jadi gak
ada alasan buat malas2n dan tidak tahu terhadap
sesuatu yang ingin diketahui.... Nah sebagai pelajar yang sedang berjuang meraih
mimpi tentunya mempunyai segudang pertanyaan
yang harus dipecahkan. Dan setiap orang pasti
mempunyai rasa penasaran yang menimbulkan
pertanyaan dalam diri yang mendorong kita ingin
tahu akan sesuatu hal... Maka disinilah penulis merekomendasikan www.google.com sebagai
sahabat belajar sobat dan menjawab rasa penasaran
dalam diri. Jika masih bingung penulis akan memberikan contoh
sederhana bagaimana media imformasi menjadi
sahabat baik dlam belajar tuk lebih aktif.. Semisal
sobat mengembangkan hobby dan ketertarikan
tertentu atau dalam belajar misalnya. sobat tertarik
pada bisnis maka sobat bisa memperdalam wawasannya dengan memanfaatkan
www.google.com SEO... Dalam mencari informasi dari
ruang lingkup bisniS, apapun itu yang ingin diketahui
www.google.com bisa dijadikan media consultant
terbaik. sebagai perumpamaan penulis bukanlah seorang
Pelajar Tekhnologi Information (TI) yang tertarik pada
dunia blogger dan ilmu design. dengan rasa
penasaran dan rasa keinginan tahuan akan ini penulis
mencoba mencari dan belajar meskipun tanpa
background IT sekalipun. Bagaimana mana penulis memahami bahasa pemrograman, ilmu design dan
sgala sesuatunya tentang blogger. Dan yang berperan
adalah www.google.com dan penulis slalu
mendapatkan informasi apapun yang penulis inginkan
dengan menjadikan www.google.com sebagai
sahabat belajar. Juga baik dalam hal lain, bisnis, politik, dan lain2 Silahkan buka www.google.com dan tulis hal yang
ingin sobat ketahui. Dan penulis dalam hal ini
merekomendasikan www.google.com sebagai
sahabat belajar dalam arti positif dan belajar tuk lebih
aktif....

Manajeman Informasi dan Strukturisasi Organisasi Pelajar dan Mahasiswa Pelalawan...

Written By Unknown on Minggu, 02 Januari 2011 | 11.32

Bisakah Ilmu Manajemen Organisasi diterapkan pada organisasi yang berorientasi sosial ditubuh IKMPI dan HIPMAWAN... ? jika kita berpikir IKMPI dan HIPMAWAN organisasi yang kerdil itu salah... Ada dua sudut pandang yang bisa diketegorikan IKMPI dan Hipmawan itu besar dan justru sebaliknya IKMPI dan Hipmawan itu kecil... Bagi orang mengetahui Hipmawan dan IKMPI organisasi pelajar ini sangat besar.. Memiliki ribuan anggota yang tersebar dibeberapa provinsi di Indonesia. Justru dikatakan kecil dan sangat disayangkan IKMPI tidak memiliki manajemen yang baik untuk mensinkronisasikan secara keseluruhan sehingga tiap elemen berjalan dengan manajemen dan kebijakan sendiri. Tidak adanya singkronisasi satu sama lain dan lemahnya manajemen strukturisasi ditubuh IKMPI dan tidak adanya kebijakan intern organisasi sehingga tiap elemen berjalan sendiri2 dengan nama sendiri, tekat sendiri tanpa adanya sosial control dari IKMPI dan manajemen yang diterapkan untuk mengikat satu sama lain menjadi satu kesatuan....

Sebenarnya untuk menerapkan manajemen ditubuh IKMPI tidak sulit dan bisa diterapkan jika mereka mau sedikit berpikir untuk lebih baik... Jika keadaan seperti ini dibiarkan organisasi yang kita cintai ini tidak akan pernah menjadi besar dan terus akan berjalan ditempat dari generasi ke generasi...
apapun organisasinya baik berorienntasi sosial maupun bisnis dll tanpa adanya manajemen organisasi tidak akan pernah berkembang menjadi besar... Majunya sebuah organisasi sangat bergantung pada manajemen yang tepat dan titik akurasi yang benar... Sayangnya saat ini IKMPI berjalan tanpa Manajemen, tanpa kebijakan, dan tanpa titik akurasi yang ditargetkan... Kenapa ? Lihat saja realitanya IKMPI saat ini. kepala keluarga organisasi pelajar yang bisa dikatakan lumpuh dan tidak tahu harus berbuat apa terhadap anak2nya...

jika Organisasi Pelajar dan Mahasiswa Pelalawan ini Bubar atau terpecah karena tidak bisa mengontrol rasa egois Hipmawan dan dibiarkan bergerak secara golongan. Maka yang paling bertanggung jawab adalah IKMPI. Jika ada perpecahan atau pelebaran organisasi ditubuh keorganisasian. Maka yang disalahkan adalah IKMPI...

Disini Hipmawan berharap Untuk IKMPI kongres selanjutnya agar bisa menerapkan Manajemen Strukturisasi yang benar ditubuh IKMPI dan membangun social control yang lebih aktif dan menerapkan Duta Transformasi social dan pendataan yang akurat dan merangkul secara keseluruhan baik senior dan junior dalam ikatan keluarga yang besar dan terus besar...

Apa yang harus dibenahi di IKMPI ?
Menerapkan Manajemen Strukturisasi dengan benar
IKMPI sebagai induk organisasi yang mewadahi seluruh organisasi pelajar dan mahasiswa pelalawan mampu menjadi agen of change dan social control dengan membangun kebijakan intern oraganisasi baik penerapan organisasi dalam satu wadah nama besar untuk mengikat tiap elemen dan mencegah pelebaran organisasi baik ditimbulkan manajemen konflik (polemik Hipmawan Pekanbaru) baik disebabkan ego pelebaran organisasi disebabkan oleh golongan tertentu. manajemen strukturisasi ini bisa diterapkan seperti ini IKMPI (Puncak Organisasi) >> Hipmawan (Midle Organisasi) untuk seluruh organisasi pelajar dan mahasiswa pelalawan yang tersebar diseluruh Indonesia >> Anggota seluruh kaum pelajar dan mahasiswan diseluruh indonesia.... Artinya Hipmawan dan IKMPI menjadi nama besar organisasi yang dilisensikan pada pemerintah sehingga menutup kemungkinan oraganisasi baru lahir dikalangan pelajar dan mahasiswa pelalawan.

Menerapkan Manajemen Transformasi antar tiap eleman
IKMPI membentuk sebauh manajemen transformasi dengan menerapkan duta di tiap elemen organisasi dan dalam hal ini bisa diwakilkan pada infokom ditiap elemen. Demi menjalin komunikasi dan pendataan yang lebih akurat...

Program Social skala nasional yang melibatkan secara keseluruhan
IKMPI membangun program yang bertujuan melibatkan secara keseluruhan baik senior maupun junior yang bisa meningkatkan nilai dan loyalitas dalam kebersamaan. Dan rangkul kembali smua senior yang terdata dan libatkan dalam satu pertemuan tuk saling mengenal... Dalam satu program reunian akbar misalnya...

Identitas Organisasi
Akan lebih baik lagi organisasi pelajar dan mahasiswa pelalawan yang memiliki identitas yang dibubuhkan pada sebuah kartu identitas resmi seumur hidup artinya sekali Hipmawan tetap Hipmawan... Kartu identitas yang berlaku slamanya dan sebagai tanda yang membedakan kita dengan yang lain...

Nah disinilah letak marwah dan martabat organisasi dimata publik, pemerintah maupun swasta... Dan inilah langkah akar Ikatan Keluarga Besar Hipmawan terjalin dengan pola manajemen yang baik dan berkelanjutan...

Jangan sesekali bilang "mantan Guru"

Written By Unknown on Sabtu, 01 Januari 2011 | 12.38

Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang mengajarkan kita akan hal2 yang baru. Wawasan yang baru, dan mengubah kita sosok pribadi yang baru... Pernah kita sebut Guru sebagai Mantan Guru saat sesorang bertanya dan kita menjawab "owh, itu mantan Guru SD aku dulu" . jika pernah tarik ucapamu dan minta maaflah. Guru lamanya tetap guru dan tak pernah sebagai Mantan Guru. Satu hal yang aku sesali dan tetap terngiang ditelingaku bahwa penulis pernah mengalami hal tersebut dan menyesali sampai saat ini tanpa sengaja berkata diluar pengetahuanku menyebut Guruku sebagai mentan Guruku pas dihadapannya dan beliau hanya tersenyum dan itu semua diluar pengetahuanku makna seorang guru...
Sesal inilah yang mendorong penulis tuk berbagi kesalahan yang tak semestinya terjadi dan mengajak sahabat tuk tidak sesekali mengatakan mantan Guruku pada guru2 yang pernah mengajar kita sebelumnya meski kita sudah mahasiswa, meski kita jadi pengacara, meski kita jadi pengusaha kaya, meski kita jadi mentri pendidikan sekalipun. Guru adalah guru dengan jasanya tiada tara, meski tanpa balas jasa. Sebagai penunjuk arah meraih cita...
Terima kasih guru...
Engkau laksana bulan menerangi malam
Engkau laksana matahari yang bersinar menyinari bumi
engkau pelita penerang dalam kegelapan
Engkau laksana bintang hiasi dunia

terima kasih Guru
gelapku kini tlah jadi terang
Dihiasi wawasan ilmu pengetahuan
Tiada kata yang pantas kami ucapkan
Terima kasih atas jasa yang engkau berikan

Engkaulah pelita hati menuju kebaikan
Tutur kata nasehat yang engkau sampaikan
Engkaulah Pelita sejuta harapan
Ciptakan pola pikir tuk raih masa depan...

Terima kasih Guru
Engkaulah sosok manusia yang berjasa
Manusia yang tak kenal lelah
Pahlawan hingga akhir masa...

Lihatlah guru,
Saya, dia dan kami smua
Hipmawan....
Himpunan pelajar dan mahasiswa Pelalawan
Semua adalah berkat jasa2mu
kami berhimpun....
Inilah pelajar2mu, inilah para mahasiswamu
Kaum intelektual yang tak pernah lupa akan jasa2mu.

Terima kasih guru
Jasa2mu tak akan pernah pupus
Ditelan waktu dan arus zaman
arus tsunami atau badai topan
Meski nyawa ninggalin badan
Meski nama tertulis dinisan
Jasa2mu tetap kami simpan

Maaf jika jasamu tak terbalaskan
Hanya doa yg slalu kami panjatkan
Untuk guru-guru harapan
Tonggak ilmu raih masa depan...

Merangkai kata lewat tulisan
Tulisan dirangkai penuh menawan
Terima kasih Guru2 Pelalawan
Hipmawan hadir menuai harapan

Salam hormat kami...
Hipmawan Pekanbaru...

Kirim Saran

Nama

Email

Telepon

Saran