Demonstran dan Mahasiswa

Written By Unknown on Senin, 06 Desember 2010 | 01.09

Mahasiswa dan Demonstrasi
Oleh Zainurrahman
Para mahasiswa di negeri ini sangat doyan dengan
demonstrasi, seolah-olah kegiatan yang satu itu sudah
menjadi hobi mereka. Bagi sebagian besar mahasiswa,
demonstrasi merupakan kewajiban; bagi sebagian yang lain
malah kebutuhan dan hiburan. Tidak perlu kita sebut
mahasiswa siapa dan dari universitas yang mana, tetapi
jelasnya mahasiswa kita sudah identik dengan demonstrasi.
Dalam kesempatan ini, saya akan menyoroti pemahaman
mahasiswa terhadap kegiatan demonstrasi itu dari beberapa
sudut pandang. Uraian singkat ini diharapkan bisa membuka
wawasan kita (khususnya bila anda seorang mahasiswa)
mengenai apa dan bagaimana seharusnya demonstrasi itu.
Etimologi dan Terminologi Demonstrasi
Kata Demonstrasi berasal dari kata Demonstration yang
artinya “mempertunjukkan.” Penggunaan kata ini dalam
bahasa Inggris merujuk pada kegiatan pertunjukan secara
publik baik secara perorangan maupun secara kolektif,
sebagai suatu bukti atas suatu pernyataan verbal.
Demonstrasi adalah sebuah kegiatan “memepertunjukkan
bukti” atas janji atau pernyataan yang pernah dilontarkan
sebelum kegiatan demonstrasi tersebut. Merujuk pada arti
kata dan istilah ini, para demonstran wajib mengetahui “apa
yang akan mereka tunjukkan” dan “apa yang mereka
buktikan.” Katakanlah mereka menyatakan bahwa ada
pejabat yang korupsi, dan mereka menuntut pejabat
tersebut untuk bertanggung jawab; maka demonstrasi
digunakan bukan untuk menakut-nakuti, tetapi justru untuk
membuktikan bahwa pejabat tersebut adalah koruptor dan
untuk menujukkan bahwa yang bersangkutan harus
bertanggung jawab. Kata demonstrasi yang diterjemahkan
sebagai “unjuk rasa” menurut saya tidak relevan, karena
unjuk rasa lebih relevan kepada rasa tidak puas terhadap
sesuatu atau rasa senang terhadap sesuatu. Sedangkan kata
Demonstrasi bukan hanya sekedar rasa tidak puas,
mahasiswa demonstran bukan hanya tidak puas, tetapi
memiliki sejumlah alasan logis dan bukti empirik yang
ditunjukkan. Kerap kali ditemukan bahwa mahasiswa
demonstran tidak berbeda dengan “teroris” maaf saya harus
mengatakan demikian. Mereka hanya menunjukkan bahwa
mereka ingin seseorang harus bertanggung jawab atas
pernyataannya; tetapi sikap dan aksi yang mereka lakukan
justru menebar teror bagi “yang tidak terkait.” Yang ingin
saya sampaikan adalah para mahasiswa demonstran harus
benar-benar memahami apa yang dimaksud dengan
demonstrasi, yang memang tidak perlu anarkis. Kebanyakan
mahasiswa yang ikut demonstran hanya ikut-ikutan saja,
dan melakukan hal-hal yang mereka suka seperti melempar,
memukul, menjarah dan sebagainya. Alhasil, demonstrasi
hanya akan menjadi media bagi sekelompok oknum yang
tidak bertanggung jawab dan merusak fungsi sebenarnya
dari demonstrasi tersebut.
Jati diri mahasiswa
Mahasiswa merupakan social agent dan agent of change.
Mahasiswa merupakan punggung masyarakat dan pelopor
perubahan. Untuk menjadi agent of change, mahasiswa
tidak perlu bersikap revolusioner. Sejujurnya, jati diri
mahasiswa bangsa ini sangat didominasi oleh bacaan-
bacaan mereka. Para mahasiswa, dalam pencarian jati diri
mereka, telah berhasil mengkonsumsi sekian banyak bacaan
radikal yang sebut saja Marx, Guevara, hingga ada yang fans
sama Lenin dan Hitler. Mereka berasumsi bahwa mereka
harus menjadi revolusioner guna mendapatkan jati diri social
agent of change. Sayang sekali, bukan itu yang
sesungguhnya harus terjadi. Mahasiswa harus bisa
membedakan mana revolusioner dan mana pemikir radikal.
Alangkah lucunya, ketika diri sendiri saja tidak dapat dirobah,
dari kurang baik menjadi lebih baik, kemudian berharap
dengan membaca satu dua buku dan menjadi seorang
revolusioner. yang dimaksud dengan social agent of change
itu adalah mahasiswa yang senantiasa membaur dengan
masyarakat, memberikan bimbingan intelektual dan
mengaplikasikan pengetahuan demi pencerdasan bangsa.
Berhubungan dengan “birokrat kotor” tidak dapat disangkal
bahwa mahasiswa harus turun tangan. Bukan hanya
mahasiswa, masyarakat juga turun tangan untuk masalah
ini. Akan tetapi ingat bahwa banyak oknum yang justru
menggunakan demonstrasi sebagai media untuk
memuaskan hasrat ugal-ugalan mereka. Jati diri mahasiswa
yang sebenarnya adalah yang terpelajar, rapi (bukan tampil
urak-urakan), artistik, intelek, berpengalaman, dan
bertanggung jawab; jika ini sudah terpenuhi, barulah
qualified untuk menjadi social agent of change.
Tridarma Perguruan Tinggi
Para mahasiswa yang suka demonstrasi seringkali berdalih
bahwa apa yang mereka lakukan, semata-mata untuk
melaksanakan tugas terakhir mahasiswa yang tercatat dalam
perguruan tinggi. Ini merupakan alasan yang lucu. Jika kita
lihat dengan saksama, maka tridarma perguruan tinggi
merupakan suatu kesatuan utuh:
1. Pendidikan dan Pengajaran
2. Penelitian
3. Pengabdian pada Masyarakat
Poin satu menunjukkan bahwa tugas mahasiswa adalah
untuk belajar, mendapatkan pendidikan karena sudah mahal-
mahal bayar SPP. Setelah itu, hasil dari pendidikan itu
digunakan untuk memecahkan peroalan yang dihadapi
bersama, yaitu dalam bentuk penelitian (poin kedua). Dan
hasil dari penelitian yang dilajukan oleh mahasiswa harus
disosialisasikan kepada masyarakat demi perkembangan dan
perbaikan lebih jauh (poin ketiga). Melihat kesinambungan
antara tiga poin diatas, maka demonstrasi bukanlah bagian
dari tridarma perguruan tinggi, apabila demonstrasi
dilakukan untuk kepentingan kelompok. Seringkali, ada
kepentingan yang melatarbelakangi demonstrasi, dimana
mahasiswa sudah ditunggangi menuju kepentingan
tersebut.
Mempertanyakan Kebijakan Publik
Lihatlah yang dilaporkan di layar televisi, para mahasiswa
merusak komputer-komputer kantor, padahal apa yang
mereka rusakkan itu penuh dengan database yang sangat
penting untuk pekerjaan orang. Lihatlah beberapa pegawai
yang mobil dinas mereka dirusak, dibakar, sementara
orangnya ada dalam mobil tersebut dan orang itu sama
sekali tidak tahu menahu persoalan. Lihat juga para
mahasiswa yang melempar polisi, melempar satpam,
hansip, dan akhirnya masuk rumah sakit dan kepalanya
dijahit 54 jahitan. Lihat juga kaca-kaca dilempar, kursi dan
meja dipatah-patahkan, dan sebagainya. Yang dipertanyakan
disini adalah “apa yang ingin ditunjukkan?” Jika memang
demonstrasi itu dilakukan untuk mempertanyakan kebijakan
publik, maka apakah harus benda-benda mati yang tidak
tahu menahu dengan pesoalan itu harus mendapatkan
imbasnya? Apakah para mahasiswa yang suka bergadang
itu tahu etapa berat pekerjaan mengentri database
dikomputer yang mereka rusak itu? Aneh, sangat aneh…
Apa yang harus dilakukan
Demonstrasi itu memang dibutuhkan ketika upaya diplomasi
tidak dihiraukan. Akan tetapi harus teliti dan selektif dalam
berdemo, tidak harus merusak dan tidak harus memukuli
orang. Sebenarnya mudah saja jika ingin suatu kebijakan
dirobah oleh pemerintah, atau ingin ada orang yang
bertanggungjawab dengan perbuatannya; tinggal tunjukan
saja bukti yang ada dan minta yang bersangkutan untuk
mengadakan pembuktian terbalik. Kenapa para mahasiswa
tidak join dengan polisi? pengadilan? mahkamah agung?
DPR? MPR? kan tidak semua diantara mereka itu “kotor.”
Masih banyak abang-abang kita yang bisa diharapkan disana,
sehingga tidak perlu melakukan apa-apa yang tidak perlu
dilakukan. Toh jika kita menuntut yang tidak
bertanggungjawab untuk bertanggungjawab, sedangkan
kita sendiri tidak bertanggungjawab, kan lucu….
Demonstrasi bukan anarki, demonstran bukan teroris,
mahasiswa bukan kuda tunggangan, dan hati-hati
provokator yang tidak bertanggung jawab…

Perlunya pembenahan strukturisasi ditubuh himpunan pelajar dan mahasiswa pelalawan seluruh Indonesia

Written By Unknown on Minggu, 05 Desember 2010 | 09.09

Terobosan ini bukanlah pandangan secara politis melainkan sosial diharapkan kita memiliki nama besar yang berjalan secara demokratis dan tersingkronisasi antar setiap elemen yang ada ditubuh himpunan pelajar dan mahasiswa pelalawan.

Realitanya saat ini himpunan pelajar kita yang begitu besar tidak terkoodinir dan tersingkronisasi dengan baik. Hal kecil yang kita lihat adalah nama besar organisasi terpecah dan tidak adanya satu kesatuan nama yang mengikat melainkan himpunan yang sama membesar-besarkan nama yang berbeda. Contohnya untuk himpunan pelajar dan mahasiswa kabupaten pelalawan yang ada dijakarta dan pekanbaru (HIPMAWAN), himpunan Pelajar dan mahasiswa kita yang dipadang (IMAPPEL), dan himpunan kita yang berada dikota lainnya membesarkan nama yang berbeda pula seperti medan, jogjakarta, bandung dan lampung... Satu himpunan dengan nama yang terpisah... Hal ini juga menyebabkan ketidak pahaman dan penghambat koordinasi dengan pihak pemerintah seperti yang dituturkan pada saat demonstrasi penuntutan dana beasiswa gelombang dua yang tertunda. Menuturkan bahwa salah satu penghambatnya adalah banyaknya nama organisasi pelajar dan mahasiswa baik diakibatkan konflik intern maupun ketidak seragaman yang dapat memicu kecemburuan sosial antar organisasi.

Pembenahan struktur organisasi yang menggaris bawahi nama besar HIPMAWAN tentunya akan membatasi ruang gerak perpecahan organisasi yang memiliki nama organisasi yang berbeda dan double kepemimpinan himpunan pelajar dan mahasiswa pelalawan kelompok tertentu seperti halnya perpecahan dihipmawan pekanbaru antar mahasiswa daratan dan perairan tahun silam yang memberi peluang untuk penerapan manajemen konflik yang berujung perpecahan... Dan ruang untuk menciptakan organisasi selain Hipmawan tidak akan bisa terealisasi.
Pemerintah juga dalam hal ini lebih mudah memantau perkembangan karena kita hanya berada dalam satu nama meski harus tersebar dibeberapa propinsi di Indonesia. Dan dapat tersingkronisasi secara baik dengan pemerintah.
Hal ini tidak ada artinya tanpa campur tangan pemerintah pelalawan dan harus terciptanya singronisasi yang baik antara hipmawan dan pemerintah. Langkah awal pembenahan strukturisasi ini setelah terealisasi perlunya kesepakatan bentuk kerjasama dalam membangun hubungan baik dengan pemerintah agar tersingkronisasi dengan baik pula dalam hal rekomendasi pengantar dari HIPMAWAN secara resmi sebagai perantara penyambung dengan pemerintah untuk ditindak lanjuti. dan bentuk kerja sama lainnya. Hal ini bisa mengurangi pemalsuan dokumen permohonan dana bantuan untuk pendidikan agar tidak jatuh ketangan yang tidak semestinya...

Organisasi yang besar harus memiliki nama besar dan kita segera mungkin menetapkan nama itu untuk himpunan pelajar dan mahasiswa kita kedepan, yang lebih menyatu, lebih loyal dan penuh kreatifitas dan terobosan untuk kreadibilitas kita di mata publik pemerintah dan swasta dan sosialisi terhadap pelajar dan mahasiswa pelalawan bahwa apa itu hipmawan ? bagaimana Hipmawan ? Siapa saja ? Dengan begitu mereka sendiri yang datang untuk masuk organisasi hipmawan dan menyadari betapa pentingnya hipmawan karena Hipmawan adalah perantara atau duta penyambung tangan terhadap pemerintah dan tanpa rekomendasi resmi Hipmawan. Pemerintah mempunyai alasan untuk tidak menidak lanjuti. nah barulah kita mahasiswa dan pemerintah terjalin hubungan dengan baik dan harmonis. Tidak ada lagi hearing dan demonstrasi untuk menyampaikan inspirasi. Cukup delegasi datang bertamu pada pihak pemerintah dan pemerintah menyambut baik dan menyelesaikan sgala permasalahan secara bijak dengan penuh kemesraan... ***

Mengenal Tokoh Budayawan Pelalawan

Written By Unknown on Minggu, 28 November 2010 | 10.22

Penguasaannya
tentang makna filosofis yang terkandung dalam benda-benda budaya dipelajarinya secara otodidak sejak kecil. Ayahnya, Tengku Sayed Umar Muhammad adalah sekretaris Sultan Hasyim dari Kerajaan Pelalawan. Sejak kecil ia sudah terbiasa hidup dalam lingkungan budaya Melayu yang kental serta adat istiadat istana yang begitu kuat. Kondisi ini telah mendorongnya untuk belajar memahami dan kemudian menulis tentang kebudayaan Melayu. Ia memulai dari menulis kembali pantun-pantun, Petata-petitih, Ungkapan, Syair, Gurindam, dan segala macam yang berkenaan dengan kebudayaan Melayu. Tenas Effendy pertama kali menulis tentang kebudayaan pada tahun 1952. Pada saat itu ia masih belajar di sebuah perguruan di Bengkalis. Ketertarikan dan minatnya terhadap kebudayaan Melayu tidak terlepas dari keluarganya yang mencintai adat istiadat Melayu, neneknya adalah seorang pembaca syair yang terkenal pada masanya. Selain pandai membaca syair, neneknya juga pandai dalam menenun, menekat pakaian-pakaian tradisional kerajaan Melayu di Pelalawan. Sejak masa kanak-kanak Tenas Effendy sudah akrab dengan adat istiadat Melayu, sudah menjalani adab dan etika Melayu dalam kehidupan sehari-hari, maka ada semacam kekhawatiran ketika ia melihat, begitu banyak nilai luhur tata pergaulan Melayu sudah tidak lagi diperhatikan masyarakat. Menyadari hal tersebut, ia berusaha mencatat, mengumpulkan kembali, menghimpun melakukan kajian-kajian dan membuat penelitian tentang kebudayaan Melayu dalam bentuk apa saja. Menyadari bahwa kekayaan khazanah kebudayaan Melayu begitu berlimpah dan masih terlalu banyak yang belum dapat dikumpulkannya, ia mendirikan Tenas Effendy Foundation, sebuah lembaga yang berusaha memberi bantuan pada para peneliti atau siapapun yang berminat melakukan penelitian terhadap berbagai aspek kebudayaan Melayu. Hasil usahanya dalam rentang waktu tersebut, antara lain, setumpuk buku yang diterbitkan di dalam dan luar negeri. Sampai kini, Tenas sedikitnya telah menulis 70-an buku dan ratusan makalah yang dibawakan dalam berbagai pertemuan budaya di dalam dan di luar negeri, seperti Belanda, Brunei Darussalam, Malaysia, Singapura, Thailand adalah beberapa negara yang kerap mengundangnya untuk berceramah disana. Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia, mengundangnya sebagai penulis tamu. Sejumlah bukunya, juga diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka, Malaysia. Mengingat buku-buku yang ditulis Tenas Effendy menyentuh berbagai aspek kebudayaan Melayu, maka dari 70-an buku yang dihasilkannya itu, hampir separuhnya digunakan sebagai semacam buku pegangan, baik untuk kalangan pelajar dan mahasiswa, maupun untuk masyarakat umum sebagai bahan pendidikan dan tata pergaulan dalam keluarga. Bahkan, sebagian besar Pemda Kabupaten di Propinsi Riau dan Kepulauan Riau, menempatkan buku-buku yang ditulis Tenas Effendy sebagai semacam buku wajib untuk para pegawai Pemda. Ia tidak sekedar ditempatkan sebagai budayawan yang mumpuni, tokoh adat yang kharismatik, tetapi juga kerap mengundangnya dalam kaitannya dengan kebijakan yang akan disusun dan dijalankan pemda. Tidak jarang pula, Tenas terpaksa harus menyelesaikan persoalan-persoalan kemasyarakatan. Sebagai tokoh masyarakat, Pak Tenas panggilan akrabnya terlibat pula dalam berbagai aktivitas organisasi kemasyarakatan, baik sebagai ketua, penasihat, maupun pengurus. Sesungguhnya yang dilakukan Tenas Effendy tidaklah sekadar mengumpulkan dan mendokumentasikan segala yang berkaitan dengan khazanah kesusastraan Melayu. Kesusastraan adalah salah satu bagian dari sebuah mesin raksasa yang bernama kebudayaan. Jadi, sambil coba menafsirkan dan memaknai kandungan filosofis di balik khazanah kesusastraan Melayu, ia juga menerjemahkan dan membuka tabir makna berbagai benda budaya. Biografi : Nama : Tengku Nasyaruddin Effendy Lahir : Pelalawan-Riau, 9 November 1936 Pendidikan : Sekolah Agama Hasyimiah, (1950), Sekolah Rakyat di Pelalawan, (1950) Sekolah Guru B3 di Bengkalis, (1953) Sekolah Guru A3 di Padang, (1957) Karya : Upacara Tepung Tawar (1968), Lancang Kuning dalam Mitos Melayu Riau (1970), Seni Ukir Daerah Riau (1970), Tenunan Siak (1971), Kesenian Riau (1971), Hulubalang Canang (1972) Raja Indra Pahlawan (1972), Datuk Pawang Perkasa (1973), Tak Melayu Hilang di Bumi, (1980), Lintasan Sejarah Kerajaan Siak, (1981), Hang Nadim, (1982), Upacara Mandi Air Jejak Tanah Petalangan, (1984), Ragam Pantun Melayu, (1985), Nyanyian Budak dalam Kehidupan Orang Melayu, (1986), Cerita-cerita Rakyat Daerah Riau, (1987), Bujang Si Undang, (1988), Persebatian Melayu, (1989), Kelakar Dalam Pantun Melayu, (1990) Penghargaan : Juara 1 Mengarang Puisi Pada Pekan Festival Karya Budaya Dana Irian Jaya, (1962), Juara 1 Pementasan Drama Klasik Pada Pementasan Drama Klasik Festival Dana Irian Jaya, (1962), Seniman Budaya Pilihan (1997), Anugerah Sagang, Tokoh Masyarakat Terbaik Riau 2002 versi Tabloid Intermezo Award (2002), Penghargaan Madya Badan Narkotika Nasional, Jakarta (2003), Anugerah Seniman dan Budayawan Riau Pilihan Lisendra Dua Terbilang (LDT)-UIR (2004), Anugerah Gelar Sri Budaya Junjungan Negeri, Bengkalis, (2004), Tokoh Budayawan Riau Terfavorit (2005), Anugerah Budaya; Walikota Pekanbaru, (2005), Tokoh Pemimpin Adat Melayu Serumpun, (2005), Doktor Persuratan dari Universitas Kebangsaan Malaysia, (2005), Penghargaan dari Persatuan Mahasiswa Riau Malaysia, (2005), Anugerah Akademi Jakarta (2006) <

Hipmawan Pekanbaru Berdemo di DPKKD dan Kantor Bupati tutut tranparant pemerintah mengenai program beasiswa

Written By Unknown on Jumat, 26 November 2010 | 01.49

Add caption

PANGKALAN KERINCI - Sekitar 30 orang mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Pelajar Mahasiswa Pelalawan (Hipmawan) Pekanbaru, Rabu (24/11), mendemo Dinas Pengelola Keuangan dan Kekayaan Daerah (DPKKD) yang berada di Kompleks Bhakti Praja dan juga melakukan aksi di Kantor Bupati Pelalawan, Pangkalan Kerinci. Mereka menuntut transparansi pengelolaan keuangan daerah, khususnya dalam hal dana mahasiswa, yang dianggap tertutup selama ini.
Rombongan mahasiswa yang datang dengan satu bus itu langsung berorasi begitu turun dari kendaraan yang membawa mereka. Dalam orasinya, Ketua Umum Hipmawan Izun mengatakan, DPKKD harus transparan dalam mengelola dana beasiswa bagi mahasiswa Pelalawan. "Kami ingin Dinas Keuangan transparan dalam mengelola dana beasiswa bagi mahasiswa Pelalawan," katanya.

Izun menerangkan, sampai saat ini pihak mahasiswa belum mendapat dana mahasiswa gelombang kedua tahun 2010. Padahal, seharusnya dana tersebut sudah cair.

Izun menyatakan, karena belum diberikannya dana beasiswa itu kepada para mahasiswa Pelalawan, ratusan mahasiswa Pelalawan terancam putus kuliah.

Dalam aksinya, para mahasiswa juga sempat menuntut Kepala DPKKD Lahmuddin keluar menemui mereka dan memberikan penjelasan. Namun, hanya stafnya dari bagian pajak, Joni Saidi, yang menemui mereka. "Kepala dinas sejak Minggu kemarin (21 November 2010, red) sedang berada di Jakarta. Tapi, saya bisa memberikan penjelasan mengenai hal ini, meskipun tak bisa memuaskan," kata Joni.

Karena tak puas, mahasiswa kemudian sepakat meninggalkan DPKKD meski pada saat itu Joni Saidi tengah memberikan penjelasan soal dana beasiswa yang diminta oleh mereka.

Mereka yang beraksi dengan membawa berbagai spanduk tuntutan itu melanjutkan demo ke Kantor Bupati Pelalawan. Kehadiran mereka di Kantor Bupati Pelalawan disambut Wakil Bupati (Wabup) Pelalawan HM Harris bersama beberapa stafnya.

Selanjutnya, Wabup membawa mahasiswa itu berdialog di ruang rapat Lantai II Kantor Bupati Pelalawan usai salat dzuhur. Dalam kesempatan dialog itu, Wabup memberikan penjelasan soal dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Pelalawan 2010 yang turun drastis, yakni hanya Rp810 miliar. Namun, diluar itu masih ada dana yang bisa dimanfaatkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pelalawan dari Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp185 miliar dan Dana Alokasi Khusus nondana Reboisasi (DAK non DR) sebesar Rp39 miliar. Dengan demikian, jumlahnya mencapai Rp1,034 triliun.

"Meski begitu, tetap pada tahun depan fokus utama kita adalah pembangunan desa-desa," katanya.

Sementara, mengenai dana pendidikan, Kepala Bidang (Kabid) Perbendaharaan dan Keuangan Pemkab Pelalawan Tengku Zulfan menjelaskan, dana beasiswa mahasiswa dimaksud akan dicairkan pada bulan Desember.

Ditambahkannya, banyaknya organisasi mahasiswa Pelalawan berkemungkinan menjadi pemicu masalah ini, karena adanya kecemburuan satu organisasi dengan organisasi lainnya. Karena itu, pihaknya mengharapkan mahasiswa membuat satu wadah dari perwakilan perhimpunan mahasiswa yang ada. "Tapi yang jelas, kami hanya menginginkan agar dana bantuan pendidikan itu tepat sasaran, sehingga penggunaannya pun bisa dipertanggungjawabkan," katanya. (hk/02)

Sumber : www.haluankepri.com

“PERAN MAHASISWA DALAM PEMBANGUNAN DAERAH” (Tema: Kongres III Ikatan Keluarga Mahasiswa Pelalawan Indonesia (IKMPI) di Pangkalan Kerinci)

Written By Mahyudin on Selasa, 23 November 2010 | 02.14

Kita mengenal slogan “Pemuda harapan bangsa” atau “Maju mundurnya suatu bangsa tergantung pada pemudanya”. Mahasiswa adalah bagian pemuda yang selalu ditunggu perannya dalam pembangunan. Apa sajakah peran itu?
Kita telah memaklumi bersama bahwasannya mahasiswa termasuk kalangan elit. Hanya segelintir saja dari jutaan orang pemuda di Indonesia, yang berkesempatan mengenyam pendidikan tinggi. Tak semua memiliki kesempatan masuk ke dalam kelas ini. Terlebih realita yang ada saat ini manakala biaya kuliah semakin mahal. Makin sedikit pula yang dapat merasakan hidup di dunia perguruan tinggi. Dan yang sedikit itulah, yang memiliki potensi strategis sebagai iron stock para leader di negeri kita ini.
Mahasiswa adalah kalangan yang memiliki potensi besar melakukan mobilitas. Bahkan, hal itu sudah dilakukan semenjak mereka resmi memiliki status sebagai mahasiswa, karena status itu termasuk kelas menengah. Ke depan, selepas menyelesaikan proses pembelajaran dan pencarian jati diri mereka di kampus, pintu melakukan mobilitas itu semakin terbuka. Mobilitas secara vertikal maupun horizontal, menuju ke posisi strategis di berbagai sektor yang akan mereka geluti, baik public sector, private sector atau third sector.
Besarnya potensi mereka itu –logis, karena hampir tidak mungkin negeri ini akan dipimpin oleh para lulusan SMP apalagi SD– tak luput dari besarnya harapan yang disematkan ke pundak mereka. Mereka diharapkan oleh masyarakat untuk nantinya kembali dan membangun masyarakat khususnya di daerah dari mana mereka berasal. Mahasiswa yang merantau, seolah-olah menjadi perwakilan daerah untuk menyerap ilmu sebanyak mungkin kemudian diterapkan dalam pembangunan daerahnya suatu saat nanti. Dan ini memang menjadi salah satu peran yang harapannya bisa dijalankan oleh para mahasiswa, terlepas dari realita mahasiswa zaman sekarang yang tak sedikit menghabiskan masa studinya dengan hura-hura dan bersenang-senang.
Sebenarnya apa saja peran mahasiswa yang bisa dimainkannya dalam pembangunan daerah? Hal ini perlu dipahami bersama, karena ketidakjelasan peran akan menimbulkan kegamangan. Dan kegamangan akan mengakibatkan ketidakproduktifan. Maka tentang peran mahasiswa dalam pembangunan daerah ini perlu kita ulas lebih jauh. Namun, kita perlu terlebih dahulu melihat seberapa jauh potensi yang dimiiki oleh mahasiswa. Sehingga apa saja peran yang dapat dimainkan nanti, bisa kita lihat dari potensi yang ada dalam diri mereka.
Pertama, kita dapat melihat potensi mahasiswa dari aspek karakternya. Kita pahami bersama, bahwa mahasiswa memiliki karakter idealis. Semua hal dilihat dan ingin dibentuk dalam tataran ideal. Baik dalam kehidupan mahasiswa itu sendiri, keorganisasian, berbagai sistem dan kebijakan dalam masyarakat maupun dalam kehidupan negara. Mahasiswa biasanya menjadi orang yang paling resah dengan ketidakberesan, benci dengan ketidakadilan, menginginkan tegaknya aturan dan norma kebaikan. Dengan begitu tepatlah manakala mahasiswa disebut sebagai social control, mengkritisi setiap ketidakberesan berjalannya sistem di masyarakat maupun negara.
Pemuda memiliki tipe pemikiran yang kritis dan kreatif. Mahasiswa sebagai bagian dari pemuda tak lepas dari sifat ini. Sejarah mengatakan, bahwa perubahan-perubahan besar berawal dari para pemuda. Kita dapat melihat bagaimana peristiwa kebangkitan nasional, sumpah pemuda, proklamasi kemerdekaan Indonesia serta reformasi berawal. Semua tidak luput dari peran para pemuda. Pun begitu dengan berbagai peristiwa perubahan, revolusi dan pembaruan di beberapa belahan dunia.
Kaum muda memiliki frame berfikir yang khas. Berawal dari idealismenya dia kritis terhadap persoalan-persoalan, dan dengan kreativitasnya memberikan solusi-solusi dari persoalan yang ada. Tak jarang solusi yang mereka hasilkan merupakan hal-hal yang tak terpikirkan sebelumnya oleh generasi yang lebih tua. Banyak terobosan baru yang mereka lahirkan, karena mereka punya paradigma berpikir yang berbeda. Karena berbeda paradigma, maka biasanya antara generasi tua dan generasi muda terjadi konflik pemikiran, antara paradigma lama dan paradigma baru. Kita dapat ambil contoh pada salah satu persitiwa besar, proklamasi kemerdekaan. Terjadi perbedaan pendapat antara golongan tua dan golongan muda tentang kapan proklamasi harus dilakukan.
Beberapa kelebihan yang bersifat alami di atas, yakni idealis, kritis dan kreatif membuat arus perubahan dapat diciptakan, menuju yang lebih baik sebagaimana idealita yang ada dalam benak mereka. Dipadu dengan sifat semangat, dan didukung oleh kekuatan fisik yang masih prima, maka arus perubahan semakin besar. Mereka tak akan kenal lelah dalam bekerja dan menggerakkan perubahan itu, sehingga dalam waktu yang tak terlampau lama apa yang mereka inginkan akan segera dicapai.
Kedua, potensi mereka dilihat dari aspek intelektualitas, kecerdasan dan penguasaan wawasan keilmuan. Ilmu dan wawasan yang dimiliki selain akan memperluas cakrawala pandangan, juga memberikan bekal teoritis maupun praktis dalam pemecahan masalah. Seorang mahasiswa akan dapat dengan mudah menyelesaikan masalah yang ada yang pada masa dahulu pernah ditemui manusia dan dirumuskan dalam berbagai teori pemecahannya. Atau, jika hal yang ada belum pernah ditemui sebelumnya, maka mereka sudah memiliki bekal yang metodologis dan sistematis tentang bagaimana cara menemukan pemecahan problem-problem yang ada. Tiada lain dengan riset, baik riset di bidang eksak maupun noneksak.
Potensi dari dua aspek yang ada itulah yang akan membuat mahasiswa dapat melakukan perannya. Syaratnya, kedua potensi itu benar-benar dikembangkan secara optimal oleh mereka baik secara personal maupun komunal sehingga dapat menjadi senjata yang siap digunakan untuk memberikan kemanfaatan terbesar bagi masyarakat. Potensi dari aspek karakter dikembangkan dengan berbagai aktivitas yang mengasah softskill, baik melalui kegiatan organisasi, pelatihan-pelatihan maupun aktivitas keseharian mahasiswa di luar kegiatan akademik. Sedangkan potensi intelektualitas dibangun melalui semua kegiatan yang mengasah hardskill, yakni kegiatan belajar mengajar, pengkajian, penelitian dan juga pelatihan. Dengan begitu mereka memiliki kualifikasi dan kompetensi menuju profil mahasiswa ideal, yakni mahasiswa yang memiliki integritas moral, kredibilitas sosial dan profesionalitas keilmuan.
Pada era sekarang ini, rasanya sudah tidak relevan lagi manakala implementasi peran mahasiswa hanya sekadar seperti apa yang dilakukan pada masa-masa lalu. Sebagian besar yang telah dilakukan mahasiswa untuk menjalankan peran sebagai agent of change dan social control dilakukan melalui aksi-aksi turun ke jalan. Aksi untuk menuntut perubahan kebijakan, penyebaran wacana dan opini ke publik, namun belum bisa memberikan solusi konkrit. Sudah saatnya hal itu diubah, sudah tiba waktunya bagi mahasiswa untuk memaksimalkan peran sebagai aktor intelektual yang dapat memberikan jawaban-jawaban dan solusi yang konkrit, membumi, aplikatif dan bermutu. Bukan sekadar wacana yang mengawang, atau alternatif solusi dari hasil analisis yang serampangan. Namun semuanya berbasis penguasaan keilmuan pada bidang masing-masing, melalui proses pengkajian yang mendalam dan komprehensif, dilihat dari berbagai sudut pandang secara interdisipliner sehingga menghasilkan solusi yang solutif.
Peran yang bisa dimainkan mahasiswa di daerah tentu tak terkungkung pada daerahnya masing-masing, namun bisa berperan di daerah lain. Juga tidak melulu yang bersifat konseptual, namun juga yang bersifat praktikal dengan terjun langsung di masyarakat. Yang jelas semuanya didasari oleh kerangka berpikir ilmiah. Mahasiswa dapat memulai aksinya berpijak dari masalah-masalah yang ada pada suatu daerah, maupun potensi besar yang belum terkembangkan atau teroptimalkan yang dapat menjadi senjata bagi daerah tersebut. Baik dalam bidang pangan, pendidikan, kesehatan, iptek, pertanian, sosial, budaya, pemerintahan dan lain sebagainya.
Di bidang pangan misalnya, suatu daerah memiliki keunggulan komparatif sebagai penghasil Padi. Di setiap musim panen, produksi Padi melimpah dan dapat mensuplai produk ke beberapa daerah lain yang membutuhkan. Permasalahannya adalah seringkali jumlah produksi Padi melebihi permintaan yang ada, sehingga ada sisa yang setiap periode terbuang percuma, karena sifat produk pertanian yang cepat rusak. Berdasarkan permasalahan itu, seorang mahasiswa yang baik akan dapat mengubah permasalahan seperti itu menjadi potensi besar. Dia akan melakukan riset untuk menciptakan produk olahan dari salak, sehingga salak yang tidak termanfaatkan dalam bentuk mentah setelah menjadi produk olahan lain akan memiliki nilai jual lebih tinggi, disamping dapat meningkatkan daya tahan produk itu sendiri. Implikasi positif lain dari hal ini adalah membuka peluang usaha baru yang nantinya dapat menyerap tenaga kerja, dengan begitu pengangguran dapat dikurangi.
Contoh lainnya, manakala pada suatu daerah memiliki permasalahan pada banyaknya sampah padat yang tidak tertangani dan akhirnya menumpuk di beberapa tempat. Selain dari segi estetika tidak sedap bagi pemandangan, menimbulkan bau tidak sedap, dari aspek kesehatan dapat menjadi sumber beberapa penyakit, selain memberikan potensi ancaman banjir apabila menyumbat beberapa saluran air. Mahasiswa atau kelompok mahasiswa dapat memberikan solusi dengan program pemberdayaan masyarakat pengolahan sampah organik. Dampaknya pada pengurangan jumlah sampah yang ada secara signifikan, dihasilkannya produk olahan sampah organik misalnya menjadi pupuk organik yang memiliki kegunaan dan bernilai jual, serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang sampah.
Mahasiswa tidak harus terjun sendiri ke masyarakat secara swadaya, karena hal itu akan sangat berat. Alangkah sangat baiknya mahasiswa dapat merangkul berbagai pihak yang dapat diajak kerja sama dalam membuat proyek-proyek yang lebih besar untuk memberikan pencerdasan pada masyarakat dan memberdayakan mereka. Pemerintah daerah, pihak kampus (universitas) dan pihak swasta adalah pihak-pihak yang sangat bertanggung jawab dalam kemajuan masyarakat. Pemerintah daerah tentu saja pelaku utama yang bertanggung jawab penuh terhadap kemajuan masyarakat di daerahnya. Universitas memiliki kewajiban dalam pendidikan dan pemberdayaan masyarakat sebagaimana tertuang dalam salah satu poin Tri Dharma Perguruan Tinggi. Pihak swasta memiliki kewajiban untuk melaksanakan program-program CSR (Corporate Social Responsibility). Peran ketiga elemen besar itu harus dapat dioptimalkan, dan disinergikan. Dan hal ini dapat diinisiasi oleh mahasiswa.
Pihak pemerintah berperan dalam pendanaan sebagaimana telah dianggarkan, juga SDM pakar dengan adanya para petugas penyuluh lapangan dari departemen-departemen tertentu. Pihak universitas memberikan sumbangan dari sisi keilmuan, program (misalnya dengan priogram KKN) dan SDM pelaksana, yakni mahasiswa itu sendiri. Aspek dana juga didukung oleh pihak swasta, selain perannya dalam memenuhi kebutuhan akan instrumen berupa peralatan maupun perlengkapan. Sinergitas yang saling melengkapi dari ketiga pihak ini akan memberikan signifikansi sangat tinggi dalam upaya melaksanakan pembangunan daerah. Karena dengan sinerginya beberapa pihak tersebut, masing-masing tidak bekerja sendiri melalui program yang bisa jadi overlap satu sama lain sehingga tidak efektif dan efisien, bahkan kontraproduktif.
Ke depan, kesadaran akan pentingnya sinergitas antara beberapa pihak perlu semakin ditingkatkan, dan ini harus dimulai semenjak sekarang. Tak ketinggalan, penyiapan diri mahasiswa, yang ke depan juga akan menempati ruang-ruang strategis di pemerintah, swasta maupun kampus harus dilakukan semenjak dini, dengan cara:
1. Pengembangan potensi diri dari aspek hardskill maupun softskill sebagai upaya memaksimalkan potensinya sebagai iron stock,
2. Melakukan kontrol kebijakan pemerintah terhadap penentuan arah dan karakteristik pembangunan daerah,
3. Berupaya untuk senantiasa memenuhi kebutuhan akan perbaikan dari kehidupan masyarakat dan berbagai permasalahan yang terjadi di sana melalui penerapan dan implementasi ilmu yang telah diperoleh di bangku perguruan tinggi,
4. Mengembangkan jaringan (networking) dengan berbagai pihak, khususnya yang memiliki peran dan potensi dalam pembangunan daerah.
Semua itu tak dapat terwujud manakala tidak diawali oleh kepedulian serta sikap kritis terhadap peristiwa sosial yang melahirkan niat dan kemauan untuk turut berperan serta memperbaiki masyarakat. Sehingga nantinya cita-cita untuk mewujudkan Pelalawan sebagai Daerah yang berkedaulatan, berkeadilan, maju dan mandiri dapat diraih.
By: MAHYUDIN (Ketua Pelaksana KONGRES III IKMPI)
(Ketua Umum PB FORKOMMAPEL)

Kirim Saran

Nama

Email

Telepon

Saran