IKMPI harus bertanggung Jawab terhadap polemik ditubuh Hipmawan

Written By Unknown on Kamis, 30 Desember 2010 | 11.31

Belakangan ini maraknya organisasi baru yang bermunculan selain organisasi Hipmawan sangat mengkhawatirkan terjadinya perpecahan yang serius ditubuh hipmawan. Hal ini disebabkan lemahnya kebijakan intern IKMPI dalam tata keorganisasian Ikatan Keluarga besar Mahasiswa dan Pelajar indonesia untuk pelalawan... Tidak adanya kebijakan yang mengatur tata keorganisasian berefek mudahnya golongan tertentu membuat organisasi baru. menerapkan manajemen konflik dengan keegoisan berlebihan sehingga berujung pada perpecahan.

Lemahnya Manajemen Strukturisasi IKMPI dalam tatanan keorganisasian pelajar dan mahasiswa pelalawan ini akan menimbulkan polemik yang tak terkontrol dan pelebaran organisasi akan semakin marak terjadi dan semakin menjadi-jadi. hal ini adalah masalah yang serius yang harus dicari jalan keluarnya dan butuh kerjasama dengan pihak pemerintah pelalawan dalam menutaskan masalah ini untuk pelajar dan mahasiswa pelalawan yang bersatu dalam satu wadah yang sama.

Hipmawan dilarang berpolitik karena tujuannya bersifat sosial tapi kenyataan sekarang politik tak bisa terlepas dari segi kehidupan termasuk dalam keorganisasian. Meninjau lebih jauh politik akan terlihat saat2 penggantian pimpinan Hipmawan. banyak strategi dimainkan bahkan adanya semacam penerapan dua opsi Seperti yang terjadi diwaktu silam penerapan dua strategi sekaligus... Strategi A dan Strategi B yang mana strategi awal untuk kemenangan dan kedua jika menuai kekalahan. Hal ini terjadi pada saat mahasiswa perairan pelalawan menuai kekalahan dan strategi kedua Manajemen konflik yang berujung perpecahan berjalan mulus hingga saat ini tetap berlanjut...

Kenapa ini sampai terjadi ? Kelemahan kebijakan IKMPI dalam tatanan keorganisasian. Sedemikian mudahnya golongan tertentu membuat organisasi baru yang seharusnya ini bisa dicegah melalui kebijakan intern IKMPI yang disahkan dan diakuisisi pemerintah daerah Pelalawan. Pertimbangan ini diambil belakangan ini maraknya organisasi ditubuh pelajar dan mahasiswa pelalawan seperti Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Pelalawan Bersatu (IPMPB) dan Gerakan Mahasiswa Pelalawan Indonesia (GMPI) yang semuanya berawal dari Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Pelalawan (Hipmawan). hal ini akan membingungkan banyak pihak baik dari kalangan mahasiswa maupun pihak pemerintah sendiri. Begitu banyak organisasi yang mengatas namakan Pelajar dan Mahasiswa Pelalawan yang akan berakibat fatal buat Hipmawan kedepan. Hal ini diperlukan manajemen yang mengatur tatanan organisasi yang sah dari IKMPI dan Pemerintah untuk mencegah gerakan2 lain yang mengatas namakan Pelajar dan Mahasiswa Pelalawan.

Pelebaran organisasi ini mungkin tidak bisa dicegah Hipmawan melainkan ini tanggung jawab IKMPI sebagai kepala Organisasi untuk memenej anggota tubuhnya yang melenceng. Perlu adanya kebijakan yang meluruskan hal ini. Harus adanya campur tangan IKMPI, Senior Hipmawan dan Pemerintah daerah...

Hal yang paling dominan dan akan memperburuk kondisi Hipmawan kedepan sepatutnya menuai solusi yang bijak. Demi persatuan dan kesatuan pelajar dan Mahasiswa Pelalawan kedepan.

Langkah yang mungkin bisa diambil oleh IKMPI dan Senior Hipmawan segera membentuk kebijakan Intern Organisasi kemudian disahkan oleh pemerintah daerah Pelalawan....

1. IKMPI harus menciptakan satu nama besar sebagai wadah organisasi pelajar dan Mahasiswa Pelalawan yang tersebar dibeberapa provinsi di Indonesia. dengan pertimbangan organisasi yang besar harus memiliki nama besar. Seperti Hipmawan Untuk semua... (Hipmawan Jakarta, Hipmawan Bandung, Hipmawan Jogjakarta, Hipmawan Medan, Hipmawan Padang, Hipmawan Pekanbaru, Hipmawan Lampung dst) yang semuanya dalam satu wadah nama besar Hipmawan

2. IKMPI harus menciptakan kebijakan intern tatanan organisasi untuk Hipmawan skala nasional seperti menetapkan nama Hipmawan sebagai nama besar dan menekan pelebaran sayap organisasi yang mengatas namakan Pelajar dan Mahasiswa Pelalawan baik diakibatkan manajemen konflik mau gerakan tertentu. Kemudian dimaklumatkan dan diakuisisi pemerintah Pelalawan.

3. IKMPI sebagai kepala organisasi seluruh badan organisasinya mampu menjadi social control of Hipmawan dan bertanggung jawab terhadap permasalahan dalam internal organisasi.

4. IKMPI harus memiliki duta disetiap Himpunan pelajar dan Mahasiswa Pelalawan yang tersebar dibeberapa provinsi di Indonesia sebagai social control organisasi dan badan transformasi antar tiap elemen baik dlam pendataan dan imforrmasi

5. IKMPI bekerja sama dengan pemerintah untuk rekomendasi penuh untuk Hipmawan dalam membangun loyalitas dan kebersamaan dalam satu wadah Hipmawan. artinya tanpa rekomendasi Hipmawan sgala sesuatunya tidak boleh ditolerir pemerintah tanpa didasari rekomendasi Hipmawan. Baik beasiswa, rencana kegiatan, dll... Dengan ini pemerintah terfokus pada satu wadah saja.

Kebijakan akan menuai sebuah keputusan yang membuka jalan pada kebenaran. Dan inilah yang akan menutup gerakan sayap organisasi lain yang mengatas namakan pelajar dan Mahasiswa Pelalawan...
Jika ini tidak berjalan dan IKMPI tetap bungkam tanpa menunjukan kinerjanya sama sekali alamat Hipmawan akan menuai kehancuran dan Jalan ditempat tanpa ada perubahan yang signifikan. seperti yang disampaikan Tokoh Hipmawan Pekanbaru Zarda Ikhwan "Jika IKMPI hanyalah sebuah Popularitas tanpa menunjukan Kinerjanya sama sekali sebaiknya dibubarkan saja"

Note : artikel ini merupakan bentuk solidaritas atas keprihatinan realita saat ini...

Peran dan Fungsi Organisasi Mahasiswa

Written By Unknown on Rabu, 29 Desember 2010 | 07.12

MAHASISWA pada saat ini merupakan harapan
terbesar bagi masyarakat sebagai penyambung
lidah rakyat terutama sebagai perubahan di
masyarakat (Agen social of cahange). Sebagai
salah satu potensi, mahasiswa sebagai bagian
dari kaum muda dalam tatanan masyarakat yang mau tidak mau pasti terlibat langsung dalam tiap
fenomena sosial, harus mampu
mengimplementasikan kemampuan
keilmuannya dalam akselerasi perubahan
keumatan ke arah berkeadaban. Keterlibatan mahasiswa dalam setiap perubahan
tatanan kenegaraan selama ini sudah menjadi
jargon dan pilar utama terjaminnya sebuah
tatanan kenegaraan yang demokratis.
Romantisme politis antara mahasiswa dengan
rakyat terlihat sebagai fungsinya sebagai social control termasuk terhadap kebijakan menindas. Mahasiswa dalam hal ini sudah menunjukkan diri
sebagai salah satu potensi yang dapat
diandalkan dalam upaya menuju tatanan
masyarakat yang berkeadilan. Dan distribusinya
baik secara kualitas maupun kuantitas dalam
segala aspek kehidupan sosial sudah semestinya diperhitungkan. Bentuk keberhasilan dalam mewujudkan sebuah
tatanan masyarakat berkeadaban di Indonesia
adalah dengan semakin kecilnya angka
kemiskinan, pengangguran, kriminalitas,
peningkatan taraf ekonomi dan pendidikan, dan
lain sebagainya. Namun, itu semua hanya akan menjadi mimpi belaka manakala semua konsep-
konsep yang dibangun dan berbasis kerakyatan
tersebut tidak dibarengi dengan strategi yang
matang dan jitu ke arah tujuan tersebut. Dan
maksimalisasi fungsi mahasiswa dan kaum
muda dalam tiap laju demokratisasi merupakan salah satu pilar utama yang perlu diperhatikan. Sekali lagi, peran mahasiswa sebagai bagian dari
masyarakat sosial ditunggu. Diharapkan
mahasiswa mampu memainkan peran yang
strategis. Kesatuan visi, tekad, dan perjuangan
untuk kepentingan masyarakat secara luas,
menjadi pondasi utama peran tersebut saat ini atau nanti. Namun, untuk mewujudkan hal
tersebut, sekali lagi, perlu pemetaan, perumusan,
dan penelaahan metode penerapan fungsi
mahasiswa dalam kancah epistemologi
keumatan tersebut. Realitas di Lapangan Pasca gerakan reformasi 1997/1998 hingga saat
ini terjadi neorosis masa yang cukup signifikan,
aksi-aksi mahasiswa terkesan kehilangan comon
enemy (musuh bersama). Solidaritas gerakan
mahasiswa semakin mencair ke dalam ke-akuan
masing-masing. Kampusku, organisasiku, idiologiku, dan keaku-akuan yang lain. Meskipun
tidak bisa dipungkiri masih ada beberapa
organisasi yang tetap konsisten menjadi corong
kepentingan rakyat dengan tetap melakukan
aksi-aski turun ke jalan. Ironisnya, mencairnya gerakan mahasiwa ke
dalam internal kampus tidak menjadikan
organisasi mahasiswa dapat tumbuh dan
berkembang menjadi kekuatan social society dan
memiliki bargaining posisioning dalam mensikapi
kebijakan-kebijakan biokrasi kampus dan mengakomodir aspirasi dan menjadi juru bicara
mahasiswa. Kondisi semacam ini semakin diperparah lagi
dengan tingkah pola segelintir Mahasiswa yang
meng-klaim dirinya sebagai “aktivis kampus ” yang justru menjurus kepada pembenaran atas
kecendrungan analisa negatif sebagai
Mahasiswa lainnya tersebut. Bahkan, sebagian di
antaranya cendrung “arogan”, merasa paling intelek dengan tidak menghiraukan keberadaan
lingkungan sekitarnya. “Aktivis Kampus ” seperti ini kerap berbicara soal Demokrasi, tapi di saat itu juga cendrung
“Otoriter”, memaksakan kehendak dan tidak bisa menerima perbedaan dan pendapat yang
lain. Membahas “revolusi ”, tapi tidak diimbangi dengn revolusi akhlak dalam dirinya
yang masih jauh dari nilai-nilai fitri. Berdebat
tentang Konsep Ketuhanan namun tak nampak
“sifat-sifat” Tuhan dalam dirinya, seperti rahman, Rahim. Maka kalau kondisi ini terus
dibiarkan, maka tidaklah heran organisasi
mahasiswa mengalami degradasi dan
deteroiorasi dalam skala aksi maupun subtansi.
Dan hal inilah yang pada akhirnya menyebabkan
kaderisasi menurun drastis baik kualitas maupun kuantitas. Kondisi objektif di atas bergulir bagaikan bola
salju yang kian membesar dan sulit dicairkan,
sehingga memunculkan kelompok mahasiswa
terbagi sebagai berikut: 1. Kelompok Mahasiswa Kupu-kupu (kuliah
pulang-kuliah pulang). Tipikal dari
individu atau kelompok mahasiswa ini
dominan melewai hari-harinya di
kampus full hanya dengan belajar “Teks Book”, mengerjakan semua yang diperintahkan setiap dosen (baca: dosen)
dengan harapan kuliah dapat selesai
tepat waktu dan meraih prestasi
akademik yang memuaskan sehingga
dapat menjadi dongkrak untuk
peningkatan karier. Ciri khas utama kelompok ini adalah Indeks Prestasi
Komulitatif (IPK) minded, cendrung
eksklusif dan skeptis-apatis terhadap apa
pun bentuk aktivitas organisasi
mahasiswa, senantiasa berpikir
“neraca rugi-laba”, saat diajak ber- organisasi bahkan cendrung subjektif
dalam peniliaiannya tentang aktivitas
kampus. 2. Kelompok Mahasiswa Cheerleader.
Kelompok atau tipikal individu semacam
ini mempunyai beberapa ciri, di
antaranya senang meramaikan atau ikut
menyemarakkan beberapa kegiatan
yang ada di kampus maupun organisasi mahasiswa. Namun, masih “alergi” jika suatu ketika dipercaya untuk
mengemban amanah kepemimpinan
ataupun kepengurusan dalam sebuah
event dan kegiatan sosial
keorganisasian. Bagi mahasiswa model
ini, berkelompok dan berorganisasi haruslah ada muatan “pesta”, bersenang-senang, sekadar pergaulan
dan cendrung tidak mempunyai
pendirian yang pasti terhadap pendapat-
pendapat yang beredar mengelilingi
lingkungan sekitarnya. Siapa yang dekat-
akrab, mereka-lah kawan “organisasinya. ” 3. Kelompok Mahasiswa Aktif dengan
Organisasinya. Kelompok atau individu
dari mahasiswa semacam ini tidak begitu
dominan keberadaannya. Secara
kuantitatif relatif sedikit, sedangkan dari
segi kualitas masih harus dikaji ulang. Eksistensi kelompok atau individu
bertipikal semacam ini sepintas aktif
dengan segenap organisasi
kemahasiwaan yang ada baik yang intra
maupun eksra kampus. Bahkan, dari
yang sedikit jumlahnya di sini, sebagian di antaranya cendurng “kebablasan ”, sehingga ada juga secara tidak sadar
melepas statusnya sebagai mahasiswa
lantaran “kris moneter ” dalam dirinya D-O (baca Drop Out). Ada juga sebagian
diri mereka yang “kehabisan napas ” kerena ketidakmampuan me-manage
waktu yang dimilikinya, sehingga vacum
bahkan berubah menjadi apatis terhadap
organisasi mahasiswa. Merubah Paradigma Berpikir Mahasiswa yang aktif ber-organisasi secara
konsisten semata-mata memiliki pemahaman
bahwa organisasi kemahasiswaan merupakan
sebuah sarana yang efektif dalam meng-kader
dirinya sendiri untuk ke depan. Sebagian di
antaranya masih mempunyai keyakinan pandangan bahwa kampus merupakan tempat
menimba ilmu yang tidak terbatas hanya kepada
pelajaran semata. Dengan bergabung aktif dalam organisasi
kemahasiswaan yang bersifat intra ataupun
eksra kampus berefek kepada perubahan yang
signifikan terhadap wawasan, cara berpikir,
pengetahuan dan ilmu-ilmu sosialisasi,
kepemimpinan serta menajemen kepemimpinan yang notabene tidak diajarkan dalam kurikulum
normatif Perguruan Tinggi. Namun, dalam ber-
organisasilah dapat diraih dengan
memanfaatkan statusnya sebagai mahasiswa. Pemahaman arti penting sebuah organisasi dan
aktivitas organisasi mahasiswa adalah salah satu
persoalan yang pertama-tama harus diluruskan.
Adanya anggapan bahwa ber-organisasi berarti
berdemonstrasi, atau ber-organisasi khusunya di
kampus tidak lebih dari sekadar membuang sebagian waktu, energi, ajang mencari kawan
atau mencari jodoh merupakan bukti adanya
kesalapahaman tentang presepsi sebagian
mahasiswa tentang organisasinya sendiri. Berdasarkan hal tersebut maka organsiasi
mahasiswa dituntut untuk terus meningkatan
kualiatas dirinya. Dan peningkatan pelayanan
terhadap masyarakat mahasiswa. Sebagai
miniatur pemerintahan negara dalam
penyelenggaraan negara yang semestinya dilakukan oleh aparatur negara. Maka, organisasi
mahasiwa harus meng-adopsi prinsip-prinsip
pemerintahan layaknya dalam sebuah negara
dan dikolaborasikan dengan prinsip sebagai
organisasi pengkaderan dan perjuangan. Dengan demikian, satu media yang dapat
membentuk kematangan mahasiswa dalam
hidup bermasyarakat ialah organisasi. Dengan
senantiasa ber-organisasi maka mahasiswa
akan senantiasa terus berinteraksi dan
beraktualisasi, sehingga menjadi pribadi yang kreatif serta dinamis dan lebih bijaksana dalam
persoalan yang mereka hadapi.**

Politik dan Timnas Skuad Garuda Indonesia

Beginikah Politik... Untuk mengangkat nama dimata publik sering kali memamfaatkan sebuah ketenaran untuk golongan tertentu. Politik slalu ada dalam segi kehidupan... Berbagai cara dilakukan untuk mengangkat namanya dimata publik dengan memanfaatkan ketenaran seseorang.. Dikalangan selebritis tentunya beberapa waktu silam... Skenario tlah dimainkan memamfaatkan ketenaran seorang kiyai sejuta umat untuk mengangkat namanya dimata publik yang hampir karam digelombang arus zaman...

Dan kali ini semarak timnas geruda untuk piala AFF tlah menjadi sorotan seluruh media dan jadi perbincangan hangat dikalangan generasi muda, anak2 bahkan orang tua.. Justru ini jadi kesempatan para politisi tertentu untuk ikut ambil andil dalam moment tersebut...

Berikut Coretan Indah dari E.S ITO Untuk Timnas garuda Indonesia yang didalamnya mengandung unsur politik...

"Kawan, kita sebaya. Hanya bulan yang membedakan
usia. Kita tumbuh di tengah sebuah generasi dimana
tawa bersama itu sangat langka. Kaki kita menapaki
jalan panjang dengan langkah payah menyeret sejuta
beban yang seringkali bukan urusan kita. Kita
disibukkan dengan beragam masalah yang sialnya juga bukan urusan kita. Kita adalah anak-anak muda
yang dipaksa tua oleh televisi yang tiada henti
mengabarkan kebencian. Sementara adik-adik kita
tidak tumbuh sebagaimana mestinya, narkoba politik
uang membunuh nurani mereka. Orang tua,
pendahulu kita dan mereka yang memegang tampuk kekuasaan adalah generasi gagal. Suatu generasi
yang hidup dalam bayang-bayang rencana yang
mereka khianati sendiri. Kawan, akankah kita
berhenti lantas mengorbankan diri kita untuk menjadi
seperti mereka?
Di negeri permai ini, cinta hanyalah kata-kata sementara benci menjadi kenyataan. Kita tidak
pernah mencintai apapun yang kita lakukan, kita
hanya ingin mendapatkan hasilnya dengan cepat. Kita
tidak mensyukuri berkah yang kita dapatkan, kita
hanya ingin menghabiskannya. Kita enggan berbagi
kebahagiaan, sebab kemalangan orang lain adalah sumber utama kebahagiaan kita. Kawan, inilah
kenyataan memilukan yang kita hadapi, karena kita
hidup tanpa cinta maka bahagia bersama menjadi
langka. Bayangkan adik-adik kita, lupakan mereka
yang tua, bagaimana mereka bisa tumbuh dalam
keadaan demikian. Kawan, cinta adalah persoalan kegemaran. Cinta juga masalah prinsip. Bila kau
mencintai sesuatu maka kau tidak akan peduli
dengan yang lainnya. Tidak kepada poster dan umbul-
umbul, tidak kepada para kriminal yang suka mencuci
muka apalagi kepada kuli kamera yang menimbulkan
kolera. Cinta adalah kesungguhan yang tidak dibatasi oleh menang dan kalah.
Hari-hari belakangan ini keadaan tampak semakin
tidak menentu. Keramaian puluhan ribu orang antre
tidak mendapatkan tiket. Jutaan orang lantang
bersuara demi sepakbola. Segelintir elit menyiapkan
rencana jahat untuk menghancurkan kegembiraan rakyat. Kakimu, kawan, telah memberi makna
solidaritas. Gocekanmu kawan, telah mengundang
tarian massal tanpa saweran. Terobosanmu, kawan,
menghidupkan harapan kepada adik-adik kita bahwa
masa depan itu masih ada. Tendanganmu kawan,
membuat orang-orang percaya bahwa kata “bisa” belum punah dari kehidupan kita. Tetapi inilah
buruknya hidup di tengah bangsa yang frustasi,
semua beban diletakkan ke pundakmu. Seragammu
hendak digunakan untuk mencuci dosa politik.
Kegembiraanmu hendak dipunahkan oleh iming-iming
bonus dan hadiah. Di Bukit Jalil kemarin, ada yang mengatakan kau terkapar, tetapi aku percaya kau
tengah belajar. Di Senayan esok, mereka bilang kau
akan membalas, tetapi aku berharap kau cukup
bermain dengan gembira.
Firman Utina, kapten tim nasional sepak bola
Indonesia, bermain bola lah dan tidak usah memikirkan apa-apa lagi. Sepak bola tidak ada
urusannya dengan garuda di dadamu, sebab simbol
hanya akan menggerus kegembiraan. Sepak bola
tidak urusannya dengan harga diri bangsa, sebab
harga diri tumbuh dari sikap dan bukan harapan. Di
lapangan kau tidak mewakili siapa-siapa, kau memperjuangkan kegembiraanmu sendiri. Di pinggir
lapangan, kau tidak perlu menoleh siapa-siapa,
kecuali Tuan Riedl yang percaya sepak bola bukan
dagangan para pecundang. Berlarilah Firman, Okto,
Ridwan dan Arif, seolah-olah kalian adalah kanak-
kanak yang tidak mengerti urusan orang dewasa. Berjibakulah Maman, Hamzah, Zulkifli dan Nasuha
seolah-olah kalian mempertahankan kegembiraan
yang hendak direnggut lawan. Tenanglah Markus,
gawang bukan semata-mata persoalan kebobolan
tetapi masalah kegembiraan membuyarkan impian
lawan. Gonzales dan Irvan, bersikaplah layaknya orang asing yang memberikan contoh kepada bangsa
yang miskin teladan.
Kawan, aku berbicara tidak mewakili siapa-siapa. Ini
hanyalah surat dari seorang pengolah kata kepada
seorang penggocek bola. Sejujurnya, kami tidak
mengharapkan Piala darimu. Kami hanya menginginkan kegembiraan bersama dimana tawa
seorang tukang becak sama bahagianya dengan
tawa seorang pemimpin Negara. Tidak, kami tidak
butuh piala, bermainlah dengan gembira
sebagaimana biasanya. Biarkan bola mengalir,
menarilah kawan, urusan gol seringkali masalah keberuntungan. Esok di Senayan, kabarkan kepada
seluruh bangsa bahwa kebahagiaan bukan urusan
menang dan kalah. Tetapi kebahagiaan bersumber
pada cinta dan solidaritas. Berjuanglah layaknya
seorang laki-laki, kawan. Adik-adik kita akan
menjadikan kalian teladan!"

Ada Apa dengan IKMPI ???

Written By Unknown on Selasa, 28 Desember 2010 | 12.02

Ikatan Keluarga Besar Mahasiswa dan Pelajar Pelalawan (IKMPI) adalah sebuah organisasi puncak yang mewadahi seluruh Himpunan Pelajar dan Mahasiswa yang tersebar dibeberapa provinsi di Indonesia. Sebagai kepala yang berhak mengatur tiap2 anggota badannya untuk kesatuan dan persatuan dalam kebersamaan, keselarasan, dan kekompakan untuk membangun masyarakat pelalawan yang intelektual dikalangan pelajar dan Mahasiswa pelalawan untuk membangun generasi penerus pelalawan yang handal dan memiliki kredibilitas yang tinggi dalam membangun pelalawan kedepan.

Pertanyaanya sudahkah itu terwujud. Sekecil apapun dari bukti perwujutan itu... Dimanakah letak kinerja IKMPI saat ini ataukah hanya sebuah pelengkap anggota tubuh keorganisasian. Hanya nama yang terdiam membisu melihat anggota badannya bergerak tanpa kepala.... Apa jadinya kini anggota tubuh telah kehilangan kepala untuk berjalan dengan kaki sendiri. Nama sendiri dan tekat sendiri.

Ada apa dengan IKMPI... Dimana mereka saat ini ? Dan apa saja yang mereka lakukan untuk Himpunan pelajar dan Mahasiswa Pelalawan skala nasional sekarang. Kenapa saat polemik tubuhnya membelit. Rendahnya tingkat loyalitas dan kebersamaan yang menjadi tanggung jawab mereka saat ini. Jika ada bersuaralah dengan lantang dan katakan "akulah IKMPI kepala dari tiap anggota tubuhku yang akan slalu mengarahkan mata untuk lebih baik, berpikir kreatif tuk lebih aktif, mendengar keluh kesah, merasakan sakit, bersama menelusuri waktu untuk pelajar dan Mahasiswa Pelalawan Indonesia dan aku yang bertanggung jawab atas anggota tubuhku. Karena aku kepala. Aku bisa berpikir dan melihat himpunan pelajar mahasiswa Pelalawan yang lebih baik untuk Indonesia" satu untuk Hipmawan.. Satukan kami kembali dalam kebersamaan seperti dulu yang kini terpecah disebabkan lemahnya kebijakan tata keorganisasian dari IKMPI...

IKMPI Seharusnya.....
Membangun kebersamaan dan keselarasan
sudahkah ini terwujud... ? belum, Sudahkah memiliki nama besar ? belum. kita tahu Organisasi pelajar dan Mahasiswa Pelalawan bukanlah organisasi yang kerdil melainkan sebuah organisasi yang besar dan tersebar dibeberapa provinsi di Indonesia. Sewajarnyalah memiliki satu nama besar dalam wadah yang sama. Merupakan perwujutan keselarasan dalam kebersamaan antar tiap elemen. Realitanya saat ini setiap elemen berjalan sendiri2, membesarkan nama sendiri tanpa ada keselarasan dalam satu nama besar yang akan dibesar2kan. Jelas ini berpengaruh untuk masa depan organisasi kedepan. Sudahkah semua tersinkronisikan dengan baik... Selaraskah ? belum... Hal ini kita PJ kan pada IKMPI sebagai kepala yang punya mata tuk melihat realitanya saat ini...

Reunian AKBAR (program tahunan )
Contoh kegiatan berskala nasional yang menyatukan seluruh pelajar dan Mahasiswa Pelalawan seluruh Indonesia dan silahturahmi antar junior dan senior pelajar dan Mahasiswa Pelalawan setiap tahunnya untuk ciptakan rasa persaudaraan yang solid dan barisan besar yang tak tergoyahkaN. Sehingga tak melupakan sejarahnya, seniornya, dan orang2 yang berkompeten dalam tubuh keorganisasian. Barulah dinamakan keluarga besar dan terus besar tiap tahunny... Pertanyaanya sudahkah ada program berskala nasional yang melibatkan seluruh anggota baik junior maupun senior... ??? IKMPI adalah kepala yang mampu berpikir dan punya andil dalam membangun itu... Organisasi yang tak pernah melupakan sejarahnya dan orang2 pendahulunya...

Kebijakan Intern dan Ekstern Organisasi
IKMPI haruslah memiliki kebijakan Intern berskala nasional demi terwujudnya IKMPI yang solid dalam membangun kebersamaan dan keselarasan. IKMPI punya andil merubah, mengganti, menegur, mengatur anggota tubuhnya dalam mewujudkan cita2 IKMPI tersebut... Dan juga kebijakan ekstern organisasi dalam membangun kerjasama dengan pihak pemerintah dan swasta yang ada dipelelawan.
Duta IKMPI
IKMPI memiliki duta ditiap sub organisasi yang tersebar dibeberapa provinsi di Indonesia. Untuk memudahkan system transformasi dan pendataan secara keseluruhan tingkat nasional...

Penanggung jawab
Tiap polemik yang ada ditubuh keorganisasian seharusnya IKMPI sebagai kepala ikut merasakan dan berpikir untuk pertanggung jawaban dan melakukan perbaikan. Seperti polemik yang terjadi di Tubuh Hipmawan Pekanbaru yang terpecah diakibatkan oleh adanya krisis politik yang berujung pada manajemen konflik yang tak terselesaikan. Sebenarnya ini adalah tanggung jawab IKMPI dan menyelesaikan perkara ini secara bijak. Realitanya tidak sedikitpun campur tangan didalamnya bahkan membiarkan begitu saja dan terkesan diabaikan.. Kenapa manajemen konflik ini terjadi disebabkan lemahnya dan mungkin tidak adanya kebijakan intern IKMPI untuk memenej organisasi secara keseluruhan.

Inilah yang menjadi tanggung jawab besar IKMPI kedepan Memelihara persatuan dan kesatuan dalam kebersamaan dan keselarasan. Memang menjaga lebih susah dari pada menciptakan tapi paling gak ada usaha dan komitmen yang akan dijaga demi terwujudnya cita2 organisasi pelajar dan mahasiswa pelalawan untuk masa depan...

Mari kita rangkul smuanya dalam satu wadah nama besar. Baik junior maupun senior bersama sama membangun organisasi yang bermartabat yang mempunyai tekat kuat untuk Hipmawan yang lebih baik, lebih besar. Organisasi yang melahirkan kader bermutu dipelalawan. Menjadi teladan dan skuad yang diperhitungkan. Jangan biarkan jalan ditempat apa lagi berjalan tanpa kepala. Jangan biarkan terpecah. Satukan nama kita, tekat kita, dalam kebersamaan dan keselarasan. Bukan Golongan...

Note : Organisasi yang besar memiliki nama yang besar dan tak pernah takut pada kritikan. Justru akan membuka jalan untuk perbaikan yang lebih baik.***

Hipmawan Pekanbaru Meresmikan Jalan Datuk Tungkat Sebagai Pengganti Nama Jalan Simpang Sepakat

Hipmawan Pekanbaru yang tergabung dalam peserta KBSM Lipai Bulan menyempatkan diri untuk peresmian Jl. Dtk Tungkat sebagai pengganti nama simpang sepakat . Peresmian tersebut berlangsung pada tanggal 26 Desember 2010 pukul 03:05 wib waktu setempat yang di ikuti peserta KBSM Hipmawan Pekanbaru yang diwakili saudara Izun (Ketua Hipmawan Pekanbaru) dan ...... Sebagai penanggung jawab pelaksanaan penggantian nama tersebut

simpang sepakat yang dulu dikenal miring dikalangan masyarakat riau khususnya Pelalawan. hal inilah yang menjadi landasan penggantian nama identitas tersebut. Berawal dari pemberantasan tempat asusila penjajakan seks komersial yang cukup terkenal tersebut cukup mencoreng nama sepakat yang dinilai tiap kalangan sebagai tempat porstitusi. Untuk mengubah paradigma inilah dibutuhkan terobosan baru seperti penggantian nama Sepakat menjadi Jl. Datuk Tungkat .

Dilihat dari kronologis awalnya keberadaan sepakat dibenak masyarakat pelalawan adalah sebagai tempat porstitusi dipelalawan yang sebelumnya dihancurkan oleh Hendri BS dan Datuk Saidina Ali serta kawan2 pada masa itu. Berikut cuplikanya dari metronews ...


" Metrotvnews.com, Pelalawan: Sekitar 30 bangunan di kompleks lokalisasi Sepakat di Kabupaten Pelalawan, Riau, ludes dibakar massa. Jumlah polisi maupun anggota TNI yang berada di lokasi lebih sedikit dibanding massa, membuat aksi pembakaran ini tak bisa diredam. Pembakaran dilakukan massa dari Kecamatan Pangkalan Kuras dan Pangkalan Lesung. Sebelum membakar, massa mendobrak satu per satu bangunan di lokalisasi yang terkunci. Bangunan ini ditinggal pemilik yang mengetahui akan kedatangan massa. Menurut warga, mereka telah lama meminta agar lokalisasi Sepakat yang terbesar di Pelalawan itu ditutup. Namun, meski berulang kali didemo, tuntutan warga tidak pernah ditanggapi polisi maupun pemda setempat. Kontributor Metro TV Basarudin di kawasan lokalisasi Sepakat, melaporkan, warga sudah mendatangi lokalisasi sebelum aksi pembakaran. Perwakilan warga itu meminta dan memperingatkan agar lokalisasi ini segera ditutup. Apalagi, dalam rangka menghadapi puasa Ramadhan. Rupanya, permintaan warga ini tak diindahkan pengurus maupun penghuni lokalisasi. Warga pun marah. Mereka sepakat membakar bangunan lokalisasi yang berdiri sejak dua tahun silam. Kemarahan warga tak bisa lagi dicegah oleh polisi maupun anggota TNI yang berjaga-jaga di sana. Kondisi saat ini dilaporkan sudah aman terkendali. "


Ini menjadi konflik yang panjang masa itu dan akhirnya. komplek lokalisasi sepakatpun ditutup. hingga saat inipun nama sepakat mempunyai citra buruk dimasyarakat dan inilah yang menjadi landasan penggantian nama Simpang Sepakat menjadi Jl. Dtk Tungkat sebagai penerus perjuangan Hendri BS dan kawan2 dalam pemberantasan lokalisasi Sepakat yang ada di Kec. Pangkalan Lesung...

Kirim Saran

Nama

Email

Telepon

Saran